Akad Ijarah dalam Ekonomi Islam : Pengertian, Dalil, Rukun dan Contoh

0
30875

Pada beberapa artikel sebelumnya, kita telah membahas tentang akad-akad yang erat kaitannya dengan sistem bagi hasil dan pencampuran baik modal dengan modal ataupun modal dengan tenaga. Diantara akad tersebut adalah mudharabah, dan musyarakah. Nah, pada artikel ini kita akan membahas sebuah akad yang sifatnya pemberian upah atau biasa dikenal dengan akad sewa (ijarah).

Suka versi videonya ? Qazwa punya channel youtube loh

Pengertian Akad Ijarah

Akad Ijarah secara bahasa bermakna jual-beli manfaat. Ulama Hanafiyah mendefinisikan akad ijarah sebagai sebuah akad kemanfaatan dengan adanya kompensasi. Ketentuan ijarah sama dalam ketentuan dalam jual beli.

Kemudian Ulama Syafi’iyah mendefinisikan akad ijarah sebagai akad atas kemanfaatan yang tertuju pada sesuatu yang mubah dan dapat dipertukarkan dengan kompensasi yang umum diterapkan.

Lalu Ulama Malikiyah menjelaskan lebih lanjut bahwa akad ijarah adalah pemindahan kepemilikan atas manfaat sesuatu yang mubah dengan durasi waktu diketahui dan kompensasi yang sesuai. Definisi ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Ulama Hanabilah.

Dari beberapa definisi tersebut secara garis besar akad ijarah adalah menjual manfaat dari barang. Oleh sebab itu, tidak diperbolehkan menggunakan akad ijarah pada suatu benda. Contohnya pohon atau anggur untuk menggunakan buahnya atau ijarah kambing untuk diambil susunya, hal ini dilarang karena buah dan susu merupakan bentuk fisik yang dapat dijual belikan.

Baca Juga: Mengenal Akad Salam dalam Ekonomi Islam

Landasan Hukum Akad Ijarah

Akad Ijarah dilandasi pada dalil Al-Qur’an yang terdapat pada QS. Ath-Thalaq ayat 6 yang artinya, “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.”

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.”

Kemudian terdapat pula pada QS. Al-Qasas ayat 26 yang artinya, “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”

Hadist Nabi SAW dari Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta Abu Bakar menyewa (mengupah) seorang penunjuk jalan yang mahir dari Bani ad-Dail kemudian dari Bani ‘Abdu bin ‘Adi”

Lalu hadist yang sudah umum diketahui yaitu dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berilah upah kepada para pekerja sebelum mengering keringatnya”

Bila melihat sejarah, ternyata sejak zaman sahabat ijma muslimin telah membolehkan praktik Ijarah. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan manfaat sama pentingnya dengan kebutuhan akan suatu barang.

Adapun di Indonesia, akad ijarah diakomodir dengan dikeluarkannya fatwa Dewan Syariah Nasional MUI yaitu fatwa no: 09/DSN-MUI/VI/2000 tentang pembiayaan ijarah.

Rukun Akad Ijarah

Dikarenakan sebuah akad memiliki sifat yang sangat fundamental, maka rukun akan menyertai akad tersebut agar sebuah akad menjadi sah dan tidak rusak. Apa saja rukun tersebut?

Terkait dengan akad ijarah ini Jumhur Ulama sepakat bahwa akad ijarah memiliki 4 rukun:

  1. Muta’aqidain,
  2. Shighah (Ijab-Qabul),
  3. Upah (bayaran terhadap barang),
  4. Manfaat.

Syarat Akad Ijarah

Selain rukun yang harus dipenuhi, syarat-syarat akan akad ijarah juga tak boleh lepas untuk dipenuhi. Apa saja syarat tersebut?

Secara umum, syarat dalan Ijarah sama halnya dalam jual beli yaitu ada empat syarat:

  1. Wujud (Al-in’iqad),
  2. Berlaku/Eksekusi (Nafadz),
  3. Validitas (Shahihah) dan
  4. Pengikatan (luzum)
Baca Juga : Akad Mudharabah dalam Ekonomi Islam

Syarat Wujud dalam Akad Ijarah

Akad Ijarah menjadi tidak sah apabila dilakukan oleh orang tidak waras alias gila. Akad ini juga tidak sah bagi seorang anak kecil yang belum mumayyiz. Apa itu mumayyiz? Mumayyiz adalah sebuah sifat yang ditujukan pada seseorang yang sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Ulama Hanafiyah dalam hal ini menyatakan bahwa usia baligh tidak termasuk ke dalam syarat wujud maupun syarat berlaku. Jika ada anak kecil mumayyiz yang menyewakan harta atau dirinya yang ketika itu mendapatkan izin dari walinya maka akad itu dianggap sah dan apabila ia dibatasi dalam hal membelanjakan hartanya maka itu sah tergantung pada izin walinya.

Ulama Malikiyyah punya pendapat yang berbeda, ia menyebutkan bahwa mumayyiz adalah syarat untuk ijarah dan jual beli sedang baligh untuk eksekusi, hukum ijarah anak kecil mumayyiz dipandang sah, akan tetapi eksekusi menimbang wali dari anak tersebut.

Adapun ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah mempersyaratkan umur baligh (taklif) untuk bisa melakukan akad ijarah.

Syarat Berlaku dalam Akad Ijarah

Syarat berlaku/eksekusi atau yang dalam bahasa arab disebut nafadz dalam akad ijarah adalah kepemilikan penuh dan perwalian. Tidak boleh ijarah atas fudhuli karena bukan pemilik penuh dan perwalian yang sah.

Apa itu fudhuli? Sederhanya adalah aktivitas jual beli dimana seseorang menjualkan barang milik orang lain tanpa sepengetahuan pemilik barang tersebut. Meskipun demikian, Ulama Hanafiyah dan Malikiyah memandang bahwa meskipun fudhuli, akad ijarah tetap sah, akan tetapi eksekusinya harus menunggu persetujuan pemilik.

Syarat Validitas dalam Akad Ijarah

Terkait dengan syarat validitas atau dalam bahasa arab disebut shahihah, maka setidaknya ada 7 syarat yang harus dipenuhi, diantaranya:

  1. Kedua belah pihak harus saling ridha. Karena kunci jual beli adalah an taradin minkum (suka sama suka)
  2. objek akad haruslah manfaat yang jelas diketahui dan mencegah pada perselisihan,
  3. keterangan akan objek manfaat harus jelas dan tidak boleh menyewa dengan perkataan “dari salah satu itu ya”
  4. diharuskan manfaat dari objek ijarah bersifat mubah/halal secara syara’.
  5. tidaklah menjadi fardhu atau wajib suatu pekerjaan atas orang yang disewa sebelum akad ijarah berlangsung.
  6. tidak diperbolehkan bagi orang yang disewa mengambil manfaat dari perkejaannya.
  7. diharuskan manfaat maqsudah (tertuju) atas barang yang disewa sebagaimana pemanfaatannya setelah akad ijarah (menyewakan pohon untuk menjemur atau berteduh)

Syarat Upah (Ujrah) dalam Akad Ijarah

Akad sewa memiliki implikasi yaitu dibayarkannya biaya sewa berupa upah terhadap hal yang telah dimanfaatkan. Namun, pemberian upah tidak bisa sembarangan. Ada syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam hal pemberian upah atau ddalam bahasa arab dikenal dengan sebutan ujrah. Apa saja syarat-syarat tersebut?

Secara umum syarat upah (ujrah) dari akad ijarah adalah

Pertama: upah harus berupa harta yang jelas (diketahu) nilainya

Contoh kasus: upah penyusuan bayi dengan makanan dan pakaian; hal ini dilarang oleh Abu Yusuf, Muhammad, dan Syafi’iyyah dikaranakan ketidaktahuan akan nilai upah tersebut. Sedangkan Hanafiyah menyatakan hal ini boleh dan sah mengingat akan ayat al-qur’an (2:223), hal ini merupakan kasus khusus yang membolehkan karena tidak menimbulkan perselisihan, pendapat ini juga diutakan oleh Malikiyyah dan Hanabilah. Upah merupakan bagian dari akad ijarah;

hal ini semua ulama sekapat merusak ijarah. Memberi upah gilingan biji gandum dengan gandum (tepung), hal ini tidak diperbolehkan jumhur mengingat ketidak tahuan akan output baik dari  bijii gandum maupun tepungnya, sedangkan Malikiyah memperbolehkan hal tersebut dengan syarat takarannya yang jelas dan tepat. Kemudian Hanabilah menyetujuinya dengan hal penakarannya tepat. 

Kedua: tidak diperbolehkan upah berupa kemanfaatan yang sejenis dengan objek akad ijarah tersebut. Seperti membayar sewa tinggal dengan tinggal (dirumah) lain, tunggangan dengan tunggangan, penanaman dengan penanaman dan lainya.

Baca Juga: Pinjaman Syariah tanpa Riba
Syarat Luzum (bindingness)

terdapat dua syarat untuk agar akad ijarah bisa bersifat mengikat diantaranya:

1. Barang yang disewakan harus terbebas dari kerusakan. Ketika seseorang sedang dalam masa akad ijarah ia memiliki pilihan untuk memilih ingin melanjutkan atau tidak ketika barang yang disewa dalam keadaan tidak baik atau rusak.

Hal ini merupakan salah satu bentuk khiyar dari akad ijarah. Seperti menyewa tunggangan dan ternyata tunggangan tersebut sakit atau menyewa suatu gedung akan tetapi ternyata ditemukan bahwa gedung tersebut mengalami kerusakan. Maka diperbolehkan khiyar sebagaimana dalam bai

2. Ketika terjadi Halangan (udzur) yang diperbolehkan dari kedua belah pihak dalam akad ijarah.

Udzur-udzur yang Membuat Fasakh Akad Ijarah

Lalu, apa saja yang dapat dijadikan udzur atas fasakh/rusaknya akad ijarah? Dalam hal ini, sebuah udzur dapat dilihat dari 3 pihak:

  1. Dari pihak penyewa (yang menyewa),misal terjadi kebangkutan, berpindah pekerjaan misal dari yang awalnya dia pegawai menjadi petani, atau bepergian ke tempat/distrik lain.
  2. Dari pihak yang disewa, misal tertimpa hutang yang belebih sehingga tidak ditemukan jalan keluar lain selain menjual sebagian atau seluruh barang yang disewa. Adapun apabila pihak tersebut berpergian maka itu tidaklah diterima menjadi udzur bagi yang disewa karena tidak akan mengubah manfaat dari yang disewakan.
  3. Dari barang yang disewakan, misal seorang laki-laki menyewakan tempat pemandian dalam suatu desa untuk mandi, mencuci pada waktu tertentu. Kemudian pelanggannya yang merupakan masyarakat sekitar desa pergi semua dari desa, maka penyewa tidak diwajibkan untuk membayar kepada pemberi sewa.

Macam Akad al-Ijarah

Salah satu jenis akad ijarah adalah didasarkan pada objek yang disewakan. Dalam kategori ini terdapat 2 macam, diantaranya:

Ijarah Manfaat

Ijarah manfaat dicontohkan seperti ijarah rumah, warung, kebun binatang, barang tunggangan untuk ditungganggi membawa barang, pakaian dan perhiasan untuk dipakai. Boleh melakukan akad ijarah atas manfaat yang dibolehkan dan tidak boleh melakukan akad ijarah atas masa manfaat yang diharamkan seperti yang kita ketahui, karena manfaatnya diharamkan maka tidak boleh mengambil imbalan atasnya seperti bangkai.

Ijarah Pekerjaan

Ijarah pekerjaan adalah penyewaan yang dilakukan atas pekerjaan tertentu seperti membangun bangunan, menjahit baju, membawa barang ke tempat tertentu, mewarnai baju, memperbaiki sepatu dan lain sebagainya.

Adapun untuk ijarah pekerjaan terbagi menjadi dua jenis yaitu pekerja khas (khusus) dan pekerja musytarak (bersama).

Berakhirnya akad Ijarah

Ulama Hanafiyah menjelaskan bahwa akad ijarah dapat berakhir apabila terjadi hal-hal berikut ini:

  • Meninggalnya muta’aqidai, meskipun jumhur berpendapat tidak berakhir akan ijarah ketika salah satu transaktor meninggal sebagaimana dalam bai’
  • Ijarah berkahir dengan adanya iqalah (revocation), karena ijarah adalah muawadhah harta dengan harta.
  • Berakhir dengan rusaknya barang yang disewakan
  • Berakhirnya waktu sewa.
Baca Juga: 6 Jenis Investasi Syariah Online tanpa Ribet

Praktik Ijarah pada Perbankan Syariah

Pada perbankan syariah, akad ijarah terbagi menjadi dua jenis yaitu ijarah asli (operating lease) dan ijarah muntahiya bittamlik.

Ijarah Asli (Operating Lease)

Sewa Operasi merupakan bentuk ijarah yang asli. Akad ini memiliki beberapa sifat, yakni

  1. Barang sewaan tetap miliknya bank,
  2. Seluruh biaya perawatan dan perbaikan barang menjadi tanggung jawab bank, kecuali jika nilainya kecil dan disepakati kedua pihak,
  3. Debitur hanya memanfaatkan barang dan tidak memiliknya,
  4. Debitur tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kehilangan barang, kecuali akibat kelalaian debitur, dan
  5. Setelah selesai masa kontrak, barang dikembalikan ke bank sebagai pemiliknya
Skema Ijarah Asli

Skema di atas merupakan skema ijarah asli, penjelasan atas skema tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Debitur mengajukan pembiayaan dan melakukan waad
  2. Bank membeli mesin ke pemasok barang
  3. Pemasok barang mengirim mesin ke Bank
  4. Bank melakukan negosiasi dengan debitur dan melakukan kontrak (lengkap dengan termin dan nominal sewa) kemudian barang diberikan ke debitur
  5. Debitur membayar sewa sesuai dengan termin kontrak
  6. Mesin dikembalikan oleh debitur seusai kontrak
Baca Juga: Manfaat Fintech Syariah untuk Umat
Ijarah Muntahiya Bittamlik.

Seiring perkembangannya, akad ijarah muncul dengan modifikasi yang baru yaitu Ijarah Muntahiya bit Tamliik atau biasa disingkat IMBT. IMBT adalah akad sewa-menyewa yang diakhiri dengan adanya perpindahan kepemilikan dari pihak yang disewakan barangnya kepada pihak yang menyewa barangnya.

Skema IMBT

Penjelasan atas skema di atas adalah sebagai berikut:

  1. Debitur mengajukan pembiayaan dan melakukan waad (perjanjian),
  2. Bank membeli mesin ke pemasok barang,
  3. Pemasok barang mengirim mesin ke Bank,
  4. Bank melakukan negosiasi dengan debitur dan melakukan kontrak (lengkap dengan termin dan nominal sewa) kemudian barang diberikan ke debitur,
  5. Debitur membayar sewa sesuai dengan termin kontrak,
  6. Setelah selesai masa kontrak, debitur dan bank melakukan jual beli mesin.

Nah itulah keseluruhan tentang akad ijarah dalam ekonomi islam. Semoga artikel ini bisa menambah pengetahuanmu tentang ekonomi islam.

Jika kamu tertarik dengan konten islami seperti ini, kamu bisa juga melihat tulisan lainnya di Topik Ekonomi Islam. Jika kamu lebih menyukai konten video kamu bisa mengunjungi Channel Youtube Qazwa.