Pernahkah kamu membeli suatu barang namun barang tersebut ternyata tidak ada? Supaya kamu bisa mendapatkan barang yang kamu inginkan maka kamu harus memesan dulu barang tersebut, lalu penjual akan membuatkan barang yang kamu pesan dan akan diserahkan kepadamu di kemudian hari. Lebih kurang metodenya sama seperti pre-order . Pasti kamu sering jumpai jual beli seperti ini. Tapi pertanyaannya, emang boleh ya jual beli dengan sistem seperti ini? Bukankah dalam jual beli itu, “ada uang ada barang”?

Nah, jangan khawatir karena Islam mengakomodir hal tersebut dengan adanya akad salam. Apa itu akad salam?

Pengertian Akad Salam

Akad Salam/Jual Beli Salam adalah jual beli yang penerimaan barangnya ditangguhkan dengan pembayaran harga tunai. Penjualan yang karakteristik tanggungannya (barang) telah terdiskripsikan diawal dengan harga atau modal kerja dibayarkan didepan. Dengan kata lain, untuk membayarkan harga didepan dan pengiriman barang terspesifikasi untuk masa yang akan datang yang telah ditentukan.

Dua ulama mazhab yaitu Syafi’I dan Hambali mendefinisikan akad salam adalah sebagai sebuah akad tehadap barang yang teridentifikasi spesifikasinya yang akan dikirimkan pada waktu tertentu dengan penyerahan harga (uang) ketika dalam sesi kontrak (majelis akad). Adapun Maliki mendefinisikan salam adalah sebuah transaksi jual-beli yang dilakukan dengan memberikan harga (uang) dimuka dan pengiriman/penyerahan barang pada waktu tertentu di masa yang akan datang.

Ada beberapa terms dalam akad salam yang perlu kamu ketahui:

  • Pembeli (forward buyer) : Rabb As-Salam atau Al-Muslim
  • Penjual (forward seller) : Al-Muslam ‘Alaih
  • Barang/komoditas: Al-Muslam Fiih
  • Harga/modal kerja: Ra’sul Maal
Baca Juga: Pinjaman Syariah tanpa Riba

Landasan Hukum Akad Salam

Bila merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah, akad salam merujuk pada salah satu surat dalam qur’an yang merupakan ayat terpanjang dalam Al-Qur’an, yaitu Q.S. Al-Baqarah[2] : 282, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya”

Kemudian dirujuk pada Hadist Nabi SAW, yaitu “Dari Ibn ‘Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ketika datang ke Madinah, dan mendapati penduduknya menggunakan akad salaf (salam) pada buah-buahan untuk 1,2,3 tahun. Dia (SAW) berkata: “Barangsiapa yang melakukan transaksi salaf (pemesanan didepan), hendaknya menyatakan (spesifik) dalam volume jelas, takaran jelas dan waktu yang jelas”

Ijma’ Muslimin: Ibn Mundzir berkata, “Seluruh ulama dari semua pendapatnya yang kami hafal (ketahui) menyatakan persetujuan dan membolehkan akad salam dan orang memerlukan akad ini dalam transaksinya. Hal ini mengingat bahwa pertumbuhan buah-buahan, sayuran dan bisnis regular memerlukan untuk dibiayai agar bisa menjalankan pertanian dan bisnisnya. Kontrak ini diperbolehkan dengan dasar pemenuhan kebutuhan manusia

Kemudian secara legal, akad salam tertulis dalam fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI No: 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Salam.

Rukun Akad Salam

Agar akad salam/jual beli salam sesuai dengan syariat maka terdapat rukun-rukun yang harus dipenuhi. Apa saja rukunnya?

Rukun inti yang terdapat dalam jual beli salam adalah sighat (ijab qabul). Hanafi, Maliki dan Hanbali menyatakan bahwa bentuk ijab menggunakan terms “salaf atau salam”: Pembeli berkata, “saya membayar harga ini untuk membeli barang X dari kamu dengan akad salam” dan Penjual menjawab “saya terima”. Dengan ijab qabul seperti itu maka rukun salam sudah terpenuhi.

Kemudian Zufar dan Syafi’i berpendapat: “tidak akan sah akad bai salam kecuali dengan perkataan salaf atau salam”. Landasannya adalah analogika tentang jual-beli tidak akan konklud karena barang tidak exist saat sesi transaksi, maka perkataan salam atau salaf menjadi rukun penting. Tidak bisa hanya mengucapkan jual-beli biasa karena ada kondisi-kondisi yang berbeda.

Kalau enggak disebutkan akad salamnya boleh enggak sih? Kan repot tuh apalagi kalau lupa.

Nah, ada pendapat ulama syafi’iyah lain yang menyebutkan bahwa tidak disebutnya kata salam atau salaf pada saat akad maka itu tetap diperbolehkan. Namun, perlu ada bukti pembayaran atau kwintansi untuk barang tertentu dimasa yang akan datang.

Baca Juga: Jenis-Jenis Akad dalam P2p Lending

Syarat Akad Salam

Syarat akad salam terfokus pada harga dan atau objek salam (barang). Ulama mazhab sepakat bahwa suatu objek penjualan dinyatakan valid  dalam transaksi salam ketika telah mencapai 6 syarat, diantaranya:

  1. jenis diketahui dengan spesifik
  2. karakterisktik (sifat) diketahui
  3. jumlah diketahui,
  4. waktu penundaan diketahui,
  5. harga yang diketahui,
  6. penyebutan tepat yang jelas ketika transportasi barang memiliki biaya.

Seluruh ulama juga sepakat bahwa salam boleh pada semua komoditas  yang bisa diukur dengan volume, ukuran, panjang, angka, jumlah (kacang, telur dll).

Adapun terkait dengan harga Imam Hanafi memberikan beberapa syarat, diantaranya:

  1. Menggunakan alat tukar moneter (emas, perak, mata uang dll)
  2. Tipe harga: ketika terdapat dalam sebuah daerah tipe-tipe pembayaran, maka perlu ditentukan apa yang akan dipakai
  3. Karakteristik dari harga yang spesifik, yaitu apakah dalam keadaan baik, biasa saja atau kurang baik(buruk). Ketiga keterangan diatas untuk menghindari ketidak tahuan dan juga perselisihan dikemudian hari
  4. Spesifikasi jumlah harga, seperti halnya ditakar dengan volume, berat, atau angka. Tidak cukup hanya menunjukkan alat transaksi tanpa menyerbutkan berapa jumlah tepatnya.
  5. Semua koin (mata uang) diinspeksi (dihitung) dengan teliti /seksama agar tidak terjadi perselisihan.
  6. Pembayaran dan penyerahan tanda bukti (kwitansi) saat sesi transaksi sebelum keduanya berpisah merupakah sebuah syarat.

Ketika pembayaran ditunda lebih dari 3 hari, Imam Malik menyatakan bahwa jual beli salam tersebut dinyatakan tidak valid.

Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Hal Penyerahan Barang

Pada saat penyerahan barang baik sebelum atau setelah waktunya, maka ada juga yang harus diperhatikan, diantaranya:

  1. Penjual harus menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan kualitas dan jumlah yang telah disepakati.
  2. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih tinggi, penjual tidak boleh meminta tambahan harga.
  3. Apabila penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih rendah, dan pembeli rela menerimanya, maka ia tidak boleh menuntut pengurangan harga (diskon).
  4. Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati dengan syarat kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan, dan ia tidak boleh menuntut tambahan harga.
  5. Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka ia memiliki dua pilihan: membatalkan kontrak dan meminta kembali uangnya atau menunggu sampai tersedia.

Baca Juga: Pengertian Riba dan Bunga Bank

Skema Dasar Akad Salam

Skema Dasar Akad Salam
Skema Dasar Akad Salam

Penjelasan pada skema di atas secara sederhana adalah adanya dua pihak yang akan bertransaksi yaitu penjual dan pembeli. Sebut saja penjual sebagai A dan pembeli sebagai B. Si B akan membeli produk berupa traktor. Karena traktor tersebut tidak bisa disediakan secara langsung saat itu maka si B melakukan akad salam kepada si A. Si B menjelaskan secara spesifik traktor yang ia inginkan. Setelah sepakat, traktor tersebut dibuat dan pada waktu yang telah ditentukan untuk diselesaikan maka traktor tersebut dikirimkan kepada si A.

Implementasi di Kehidupan Sehari-Hari

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa akad salam sering kamu temui dalam sistem pre-order. Secara sederhana, sistem pre-order adalah sebuah sistem pemesanan yang mana barang yang dijual belum tersedia stocknya atau bahasa gaulnya belum ready stock. Biasanya ada durasi waktu pemesanan. Misal, si Rosnita menjual sebuah kaos dakwah dengan design yang bagus bertuliskan “Yuk Pakai Fintech Syariah”. Pre-order kaos tersebut Rosnita buka dari mulai tanggal 1 Agustus sampai 31 Agustus 2019. Pada saat Rosnita menjual kaos tersebut, ia menyebutkan waktu pengiriman kaos yang sudah dibuat. Setelah tanggal 31 Agustus 2019 Rosnita butuh waktu untuk membuat kaos tersebut selama 1 bulan. Artinya Rosnita akan mengirim kaos yang dipesan pada tanggal 1 Oktober 2019.

Contoh Skema dengan Hitung-Hitungan

Misal, Rohiman menawarkan jasa pembuatan furniture berupa kursi, meja, dan sebagainya. Kemudian datang seorang customer sebut saja namanya Aul ingin membeli furniture yang Rohiman jual. Aul ingin membeli meja dan kursi untuk mengisi rumahnya. Namun, karena furniture yang Rohiman jual belum ada maka Rohiman menawarkan akad salam kepada Aul. Alhasil Aul setuju untuk membeli meja dan kursi dengan akad salam. Aul menjelaskan spesifikasi meja dan kursi yang ia butuhkan. Setelah menjelaskan spesifikasinya, Rohiman mencoba menghitung modal yang dibutuhkan ditambah biaya jasa atas pembuatan meja dan kursi tersebut.

Modal yang dibutuhkan setelah dihitung-hitung mencapai Rp 5 juta. Rohiman menghitung biaya jasa pembuatan yang kemudian menjadi keuntungannya adalah sebesar Rp 3 juta. Sehingga total yang Aul harus bayar adalah Rp 8 juta. Kemudian Rohiman memberikan kepastian bahwa meja dan kursi akan selesai dalam waktu 14 hari dan akan dikirimkan langsung ke rumah Aul dengan menggunakan mobil box. Aul sepakat dengan jumlah uang dan durasi pengerjaan tersebut. Alhasil Aul menyerahkan uang sebesar Rp 8 juta kepada Rohiman. Setelah 14 hari, meja dan kursi tersebut berhasil dibuat dan dikirim ke rumah Aul dengan menggunakan mobil box sebagaimana yang telah dijanjikan sebelumnya.

Aul sepakat dengan jumlah uang dan durasi pengerjaan tersebut. Alhasil Aul menyerahkan uang sebesar Rp 8 juta kepada Rohiman. Setelah 14 hari, meja dan kursi tersebut berhasil dibuat dan dikirim ke rumah Aul dengan menggunakan mobil box sebagaimana yang telah dijanjikan sebelumnya.

Baca Juga: Manfaat Fintech Syariah untuk Umat

Kesimpulan

Itulah sistem jual beli dengan akad salam yang perlu kamu ketahui. Jadi gak usah khawatir kalau kamu mau memesan barang atau ingin menjual barang tapi barangnya belum ada. Semua diakomodir dengan menggunakan akad salam.

Kamu juga bisa menerapkan sistem ini pada produk-produk yang memang kamu ingin menjualnya tapi tidak punya modal. Biasanya diterapkan bagi mereka yang ingin menjual kaos. Dengan bermodal design yang kemudian dipublish di sosial media, mereka menawarkan kaos dengan sistem pre-order. Seringkali tidak hanya kaos yang dijual. Berbagai macam merchandise seperti jaket, gelas, topi dan sebagainya juga sering dijual dengan model seperti itu.


Jika kamu tertarik dengan konten islami seperti ini, kamu bisa juga melihat tulisan lainnya di Topik Ekonomi Islam. Jika kamu lebih menyukai konten video kamu bisa mengunjungi Channel Youtube Qazwa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here