Konsep tentang Pasar Modal Syariah dan Saham Syariah

0
3162
Pasar Modal Syariah

Sebagaimana layaknya pasar yang menghubungkan antara penjual dan pembeli. Pasar Modal Syariah juga merupakan tempat yang menghubungkan penjual dan pembeli. Bedanya adalah benda yang diperjualbelikan adalah berupa saham, reksadana,obligasi dan berbagai instrumen keuangan lainnya.

2019 Ramai terkait kasus tambangan batubara yang diliput oleh watchdoc,
video ini membahas tentang saham syariah

Apa itu pasar modal syariah?

Pasar modal syariah adalah pasar modal yang memenuhi prinsip syariah dalam pelaksanaannya. Di dalam pasar modal syariah terdapat saham syariah yang berjumlah 65% dari total saham. Pasar modal memiliki jumlah saham sebanyak 500 sehingga total saham syariah berjumlah sekitar 365 saham. Adapun pembagian klasifikasinya terbagi dalam 2 indeks yaitu ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) dan JII (Jakarta Islamic Index). Untuk JII sendiri, saham yang tergabung didalamnya merupakan saham yang memiliki jumlah kapitalisasi yang besar dan perdagangan yang aktif.

Bagaimana sebuah emiten/perusahaan dapat lolos masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES)?

OJK sendiri memberikan 2 tipe klasifikasi bagi perusahaan yang dapat masuk ke dalam Daftar Efek Syariah.

  1. Perusahaan tersebut sudah mendeklarasikan bahwa perusahaannya berprinsip syariah. Hal tersebut terlampir dalam AD/ARTnya
  2. Perusahaan tersebut tidak mendeklarasikan sebagai perusahaan berprinsip syariah, kemudian OJK akan menyeleksi perusahaan tersebut apakah ia tergolong dalam perusahaan yang dapat masuk ke dalam saham syariah atau bukan.

Kriteria Perusahaan dapat masuk dalam kategori saham syariah

OJK sebagai penyeleksi emiten/perusahaan yang dapat tergolong dalam saham syariah memiliki kriteria tertentu. Kriteria tersebut dilandasi pada 3 hal yaitu UU Pasar Modal, UU OJK dan Fatwa DSN-MUI. Kriteria saham syariah diantaranya :

  1. Jenis/Kegiatan Usahanya tidak melanggar pada prinsip syariah. Artinya, perusahaan tersebut harus menjual produk yang halal dan sistemnya tidak mengandung unsur maysir, riba dan gharar. Sehingga perusahaan rokok, minuman keras dan lainnya yang menjual barang haram tidak masuk ke dalam kategori saham syariah. Begitupun dengan bank konvensional dan asuransi konvensional tidak akan tergolong ke dalam saham syariah.
  2. Dilihat dari struktur pendanaan peruasahaan tersebut, debt to equity ratio atau hutang berbasis riba tidak boleh lebih dari 45%. Jikalau perusahaan tersebut memiliki hutang berbasis riba kurang dari 45% maka itu bisa ditolerir sedangkan apabila ia melebihi 45% maka perusahaan tersebut langsung ditolak dan tidak termasuk ke dalam saham syariah.
  3. Dilihat dari sumber pendapatan, sebuah perusahaan syariah tidak boleh memiliki pendapatan non-halal lebih dari 10%

Fakta menarik untuk saham syariah adalah bahwa perusahaan yang tergabung dalam Daftar Efek Syariah nyatanya memiliki perkembangan yang bagus dibandingkan perusahaan lainnya. Bahkan pada tahun 2011-2015 return saham syariah dapat mengalahkan return IHSG secara keseluruhan. Adapun pada tahun 2016-2019 return saham syariah memang tidak mengalahkan IHSG tapi tetap bertumbuh positif. Jadi dapat disimpulkan bahwa berinvestasi di saham syariah tidak hanya mendapatkan pahala tapi juga mendapatkan keuntungan. Bahagia dunia dan akhirat.

Temukan artikel lainnya terkait ekonomi islam