Asuransi Syariah : Panduan Lengkap Sebelum Memilih

0
9057
Asuransi Syariah

Hidup ini memang penuh ketidakpastian dan penuh risiko. Untuk menghadapi risiko-risiko yang terjadi maka diperlukan sebuah jaminan. Itulah mengapa hadir sebuah institusi keuangan bernama asuransi. Di dunia ada 2 sistem asuransi secara umum yaitu asuransi konvensional dan asuransi syariah.

Kedua-duanya sama-sama berfungsi untuk persiapan menghadapi risiko. Namun, terdapat perbedaan yang jelas secara fundamental maupun teknikal. Apa saja perbedaan tersebut? Itu yang akan dibahas secara komprehensif di artikel ini, yuk simak baik-baik.

Asuransi Syariah

Apa itu Asuransi Syariah?

Sebelum membahas lebih lanjut tentang asuransi syariah, harus dikenali dulu apa itu asuransi secara umum.

Asuransi berasal dari kata insurance yang artinya pertanggungan. Bila mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia maka asuransi diartikan sebagai bentuk pertanggungan atau perjanjian dengan dua belah pihak. Dua pihak yang dimaksud adalah pihak pertama yang memiliki kewajiban untuk membayar iuran rutin dan pihak kedua adalah pihak yang memberikan jaminan secara penuh kepada pihak pertama.

Bila mengacu pada undang-undang nomor 40 tahun 2014 tentang pengasuransian, definisi asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk memberikan penggantian kepada yang tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan dan sebagainya serta memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung.

Nah, itu pengertian asuransi secara umum. Lalu yang asuransi syariah gimana?

Asuransi Syariah adalah sebuah asuransi yang didasarkan pada prinsip syariah. Yang dimaksud prinsip syariah dalam asuransi syariah adalah karena sistem yang dilakukan menggunakan sistem tolong-menolong (ta’awun) dan saling melindungi (takafuli) diantara para peserta. Tolong menolong dan saling melindungi tersebut dapat terealisasi karena terbentuknya dana tabarru (dana sosial) yang dikumpulkan oleh masing-masing peserta.

Baca Juga: 6 Jenis Investasi Jangka Panjang untuk Hari Tua

Asuransi Syariah

Landasan Asuransi Syariah

Munculnya asuransi syariah tentu bukan tanpa landasan. Terdapat dalil dalam Al-qur’an yang menjadi landasan dibentuknya asuransi syariah. Landasannya adalah QS. Al-Maidah ayat 2 yang artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran

Terkait dengan persiapan hari esok yang erat kaitannya dengan asuransi, terdapat pada QS. Al-Hasyr ayat 18 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ada juga dalil hadist yang menjadi landasan untuk asuransi syariah, yaitu Dari Abu Musa r.a. dia berkata. Rasulullah SAW bersabda,”sesungguhnya Marga Asy’ari (Asy’ariyin) ketika keluarganya ada yang menjadi janda karena ditinggal suami (yang meninggal) di peperangan, ataupun ada keluarganya mengalami kekurangan makanan, maka mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki dalam satu kumpulan. Kemudian dibagi diantara mereka secara merata. Mereka adalah bagian dari kami dan kami adalah bagian dari mereka.”(HR. Bukhari).

Selain Al-Qur’an dan Sunnah, di Indonesia perkara asuransi syariah juga telah diatur oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) pada Fatwa DSN MUI Nomor 21/DSN-MUI/X/2001.

Ada juga dalam SK Dirjen Lembaga Keuangan No. 4499/LK/2000 tentang Jenis, Penilaian, dan Pembatasan Investasi Perusahaan Reasuransi dengan Sistem Syariah.

Pada sistem pemerintahan, tercatat juga secara legal dalam PP No 39/2008 ttg Perubahan kedua atas PP 73/1992 ttg penyelenggaraan Usaha Perasuransian: perizinan asuransi syariah, peningkatan modal kerja untuk mendirikan asuransi syariah dan keharusan DPS

Baca Juga: Hijrah Finansial Melalui Investasi Syariah dengan Qazwa

Asuransi Syariah

Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional

Hadirnya asuransi syariah tentunya menjadikannya beda dengan asuransi konvensional. Ada banyak sisi yang bisa dilihat dari perbedaan antara konvensional dan syariah. Apa saja perbedaan tersebut?

1. Pengelolaan Risiko

Pada Asuransi Syariah sekumpulan orang akan saling membantu dan tolong menolong, saling menjamin dan bekerja sama dengan cara mengumpulkan dana hibah (tabarru) ini disebut risk sharing. Apa itu risk sharing? Risk sharing adalah sebuah risiko yang dibebankan/dibagi kepada perusahaan dan peserta asuransi itu sendiri.

Sedangkan asuransi konvensional memberlakukan sistem risk transfer. Ini adalah konsep di mana risiko dipindahkan/dibebankan oleh tertanggung (peserta asuransi) kepada pihak perusahaan asuransi yang bertindak sebagi penanggung di dalam perjanjian asuransi tersebut.

Gampangnya kalau asuransi syariah, risiko ditanggung bersama dengan melibatkan seluruh peserta asuransi sedangkan pada asuransi konvensional risiko ditanggung oleh si perusahaan asuransi itu sendiri.

Baca Juga: Definisi, Jenis dan Praktik Manajemen Risiko

2. Pengelolaan Dana

Dalam hal pengelolaan dana, asuransi syariah lebih transparan dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk mendatangkan keuntungan bagi para pemegang polis asuransi itu sendiri.

Sedangkan pada asuransi konvensional akan menentukan jumlah besaran premi dan berbagai biaya lainnya yang ditujukan untuk menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan itu sendiri atau dalam ekonomi mainstream disebut maximizing profit.

3. Sistem Perjanjian

Sistem perjanjian di sini dapat dikatakan sebagai akad. Di dalam asuransi syariah akad yang digunakan hanya akad hibah (tabarru) yang didasarkan pada sistem syariah dan dipastikan halal.

Sedangkan di dalam asuransi konvensional akad yang dilakukan cenderung sama dengan perjanjian jual beli. Karena pada dasarnya asuransi konvensional dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

4. Kepemilikan Dana

Dana di Asuransi Syariah adalah milik bersama di mana perusahaan asuransi hanya bertindak sebagai pengelola dana saja

Sedangkan pada asuransi konvensional, premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi adalah milik perusahaan asuransi tersebut, yang mana dalam hal ini perusahaan asuransi akan memiliki kewenangan penuh terhadap pengelolaan dan pengalokasian dana asuransi.

5. Pembagian Keuntungan

Di dalam asuransi syariah, semua keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan terkait dengan dana asuransi, akan dibagikan kepada semua peserta asuransi  tersebut.

Sedangkan asuransi konvensional, seluruh keuntungan yang didapatkan akan menjadi hak milik perusahaan asuransi tersebut.

6. Kewajiban Zakat

Perusahaan asuransi syariah mewajibkan pesertanya untuk membayar zakat yang jumlahnya akan disesuaikan dengan besarnya keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan sedangkan asuransi konvensional dalam sistem yang dibangunnya tidak menerapkan zakat sebagai kewajiban yang harus dibayarkan.

Baca Juga: Segala Hal tentang Zakat Fitrah

7. Klaim dan Layanan

Di dalam asuransi syariah, peserta bisa memanfaatkan perlindungan biaya rawat inap di rumah sakit untuk semua anggota keluarga. Di sini diterapkan sistem penggunaan kartu (cashless) dan membayar semua tagihan yang timbul. Satu polis asuransi digunakan untuk semua anggota keluarga, sehingga premi yang dikenakan oleh asuransi syariah juga akan lebih ringan. Hal ini tidak berlaku dalam asuransi konvensional, di mana setiap orang akan memiliki polis sendiri dan premi yang dikenakan tentu akan lebih tinggi.

Dalam perkara klaim, asuransi syariah juga memungkinkan kamu untuk bisa melakukan double claim sehingga kamu akan tetap mendapatkan klaim yang kamu ajukan meskipun kamu telah mendapatkannya melalui asuransi yang lain.

8. Pengawasan

Pada asuransi syariah, pengawasan dilakukan oleh DSN MUI dalam bentuk Dewan Pengawas Syariah (DPS) untuk mengawasi kesyariahan dari model bisnis dan Otoritas Jasa Keuangan untuk mengawasi sistem pada asuransinya.

Sedangkan pada asuransi konvensional, institusi yang mengawasi hanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

9. Instrumen Investasi

Asuransi Syariah harus berinvestasi pada sektor yang berprinsip syariah dan terhindar Maysir, Riba, Gharar. Sedangkan Konvensional tidak mempertimbangkan kehalalan instrumen investasi yang digunakan.

10. Dana Hangus

Dana hangus adalah dana yang tidak diklaim (misalnya asuransi jiwa yang pemegang polisnya tidak meninggal dunia hingga masa pertanggungan berakhir) sehingga dana jadi hangus. Namun hal seperti ini tidak berlaku di dalam asuransi syariah, karena dana tetap bisa diambil meskipun ada sebagian kecil yang diikhlaskan sebagai dana tabarru. Sedangkan pada asuransi konvensiona dana akan tetap hangus.

Asuransi Syariah

Jenis/Kelompok Asuransi Syariah di Indonesia

Di Indonesia terdapat 3 jenis asuransi.

1. Asuransi Jiwa (life insurance or family insurance)/ Life Takaful

Jenis asuransi ini diperuntukan untuk pemegang polis yang digunakan sebagai klaim apabila ia mengalami risiko yang berkaitan dengan fisik seperti kesehatan dan meninggal dunia.

Ciri-ciri dari asuransi jiwa diantaranya: Kebijakan jangka panjang, kontribusi yang dibayarkan akan dibagi dengan akun peserta atau tabungan dan akun khusus peserta (tabarru), jika peserta meninggal sebelum waktunya keluarganya mendapat jumlah uang di akun peserta + dividen, dan jumlah di akun khusus peserta seolah-olah ia melanjutkan kontribusi sampai periode jatuh tempo.

Contoh asuransi jiwa: Asuransi Jiwa (Kematian) dan Asuransi Kesehatan

Baca Juga: Cara Seorang Pensiunan Menjadi Entrepreneur

2. Asuransi Umum/ General Takaful

Asuransi yang satu ini umum dikenal dengan asuransi kerugian. Hal ini dikarenakan, fungsi asuransi ini diperuntukan untuk menjamin risiko-risiko kerugian.

Ciri-ciri dari asuransi umum/general takaful diantaranya: Kebijakan jangka pendek, Dana takaful umum, Tabarru sebagai elemen inti, Tidak ada elemen tabungan dan investasi, dan Operator takaful akan mendistribusikan surplus underwriting kepada peserta setiap tahun

Contoh asuransi umum: Asuransi dana pendidikan, asuransi kendaraan bermotor, asuransi kebakaran dan asuransi unit link.

3. Reasuransi/Retakaful

Reasuransi adalah institusi yang bertugas menanggung risiko dari perusahaan asuransi. Jadi risiko yang ditanggung oleh perusahaan asuransi akan ditransfer sebagian kepada reasuransi. Sistemnya sama yaitu dengan memberikan premi kepada reasuransi.

Asuransi Syariah

Produk dalam Asuransi Syariah/Takaful

Ada 3 jenis produk takaful diantaranya ada produk berupa takaful pribadi, takaful group dan takaful umum.

1. Takaful Pribadi

Produk takaful yang diperuntukan untuk individu ini terbagi lagi kedalam dua jenis yaitu produk tabungan dan non tabungan.

Produk-produk yang berupa tabungan daintaranya:

1) Takaful Dana Investasi, yaitu takaful tabungan yang diperuntukkan khusus untuk investasi yang kemudian dimaksudkan sebagai bekal hari tua atau diwariskan kepada ahli warisnya apabila meninggal lebih awal.

2) Takaful Dana Haji, yaitu takaful tabungan individu yang diperuntukkan untuk dana haji.

Baca Juga: Panduan Lengkap Tabungan Haji

3) Takaful Dana Siswa, yaitu takaful yang diperuntukkan untuk persiapan pendidikan.

Adapun untuk produk berupa non tabungan diantaranya:

1) Takaful al-Khairat Individu, yaitu takaful yang diperuntukkan untuk ahli waris untuk kemudian disantuni apabila terjadi kematian pada peserta asuransi dalam masa perjanjian.

2) Takaful Kecelakaan Diri Individu, yaitu takaful untuk santunan ahli waris apabila peserta asuransi mengalami kematian akibat kecelakaan dalam masa perjanjian.

3) Takaful Kesehatan Individu, yaitu takaful yang dimaksudkan untuk menyediakan dana santunan rawat inap dan operasi bila peserta sakit dalam masa perjanjian.

2. Takaful Group

Jenis takaful yang satu ini diperuntukkan untuk kelompokkan atau institusi seperti sekolah, lembaga, perusahaan dan sebagainya. Beberapa contoh dari takaful group diantaranya, takaful al-khairat dan tabungan haji, takaful kecelakaan siswa yang diperuntukkan kepada sekolah, takaful wisata dan perjalanan untuk agen travel, takaful kecelakaan diri kumpulan, takaful majelis ta’lim dan takaful pembiayaan.

3. Takaful Umum

Jenis produk pada takaful umum berupa produk-produk untuk jaminan akibat sebuah kerusakan atau hal lain yang berdampak kerugian seperti takaful kebakaran dan takaful kendaraan bermotor.

Kesimpulan

Segala hal tentang dunia asuransi syariah telah dibahas pada artikel ini. Semoga ini bisa menjadi panduan untuk lebih bijak memilih asuransi syariah yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Pada intinya, meskipun ulama berpeda pendapat terkait hal ini namun kebutuhan akan asuransi syariah pada masa ini memang patut untuk diperhitungkan dan yang paling penting gunakanlah jenis asuransi yang syariah.

Jika kamu tertarik dengan konten islami seperti ini, kamu bisa juga melihat tulisan lainnya di Topik Ekonomi Islam. Jika kamu lebih menyukai konten video kamu bisa mengunjungi Channel Youtube Qazwa.