Jual Beli dalam Islam

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang artinya ia tidak akan bisa terlepas dari kehidupan orang lain. Manusia tidak akan bisa menyelesaikan persoalan hidupnya sendirian. Ketika lapar, butuh makan. Pada saat bosan, butuh pergi. Tatkala haus, butuh minum. Bisakah mereka lakukan sendiri? Bukankah untuk bisa mendapatkan makanan mereka membutuhkan orang yang membuatkan makanannya atau paling tidak yang membuat bahan untuk makanannya. Bagaimanapun manusia tidak akan bisa terlepas dari peran manusia lainnya.

Salah satu peran yang paling penting dalam kehidupan manusia adalah ketika mereka saling mencukupi kebutuhannya dengan cara melakukan transaksi jual beli. Kegiatan jual beli ini pada umumnya telah dilakukan sejak dahulu kala dengan berbagai macam sistem mulai dari barter, uang komoditas hingga uang kertas sebagaimana yang lazim digunakan sekarang meskipun pada akhirnya masyarakat telah masuk ke era cashless society.

Ini adalah era dimana uang kertas yang biasa dipegang dalam genggaman tangan ataupun dalam saku tidak lagi terasa karena mereka telah berubah menjadi bentuk digital. Maka alat pembayaran sekarang menjadi e-payment seperti gopay, ovo, dana, link aja dan sebagainya. Terlepas dari dinamika yang terjadi pada transaksi jual beli baik dari segi metodenya maupun dari segi medianya,yang patut menjadi perhatian adalah apakah jual beli yang sekarang sudah sesuai dengan syariat Islam. Pada artikel kali ini, kita akan membahas lebih lanjut tentang jual beli dalam Islam.

Baca Juga: Akad Ijarah dalam Ekonomi Islam.
Jual Beli dalam Islam

Pengertian Jual Beli dalam Islam

Pembahasan terkait jual beli dalam islam terbagi menjadi 2 bagian yaitu secara bahasa dan secara istilah. Secara bahasa, jual beli berasal dari kata al-bay’u yang memiliki arti mengambil dan memberikan sesuatu. Ada juga yang mengartikan sebagai aktivitas menukar harta dengan harta. Kata al-bay’u adalah turunan/derivat dari kata al-bara yang memiliki arti depa. Mengapa depa? Karena pada saat itu orang arab mengulurkan depa mereka saat melakukan transaksi jual beli yang kemudian diiringi dengan saling menepukkan tangan sebagai pertanda bahwa seluruh transaksi/akad telah berjalan dengan lancar dan telah terjadi perpindahan kepemilikian (taqabudh).

Adapun secara istilah, jual beli dalam Islam adalah transaksi tukar menukar yang memiliki dampak yaitu bertukarnya kepemilikan (taqabbudh) yang tidak akan bisa sah bila tidak dilakukan beserta akad yang benar baik yang dilakukan dengan cara verbal/ucapan maupun perbuatan. Pengertian ini dirujuk pada kitab Taudhihul Ahkam.

Selain itu, bila merujuk pada kitab fiqhus sunnah yang ditulis oleh ulama Sayyid Sabiq maka pengertian jual beli dalam Islam menjadi sebuah transaksi tukar menukar harta yang dilakukan suka sama suka atau bisa juga disebut proses memindahkan hak kepemilikan kepada pihak lain dengan adanya kompensasi tertentu yang harus sesuai dengan koridor syariah. Apa saja yang termasuk di dalam koridor syariah? Paling tidak ada dua hal yang harus diperhatikan agar jual beli termasuk dalam koridor syariah yaitu zat barangnya bukan merupakan barang haram dan cara mendapatkannya juga bukan dengan cara yang haram.

Pendapat Imam Mazhab terkait Jual Beli dalam Islam

Imam Mazhab diantaranya Malikiyah dan Hanafiyah juga mendefinisikan terkait dengan jual beli dalam Islam. Ulama Hanafiyah mendefinisikan jual beli dalam Islam sebagai pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara yang khusus (yang diperbolehkan). Adapun Ulama Malikiyah mendefinisikan jual beli dalam Islam pada 2 definisi. Yaitu definisi umum dan definisi khusus. Pada definisi umum, jual beli dalam Islam adalah suatu perikatan tukar menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan kenikmatan. Kemudian pada definisi khusus, ikatan tukar menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan buka pula kelezatan yang mempunyai daya tarik, penukarannya bukan emas dan bukan perak bendanya dapat direalisir dan ada di tempat. Juga bukan merupakan barang hutangan dan jelas sifat-sifat akan barang tersebut.

Baca Juga: Jenis-Jenis akad dalam P2P Lending.

Landasan Hukum Jual Beli dalam Islam

Transaksi atau aktivitas jual beli tentunya memiliki dasar yang jelas dalam qur’an dan sunnah. Diantaranya QS. Al-Baqarah[2] : 275 yang artinya, “Allah menghalalkan jual beli dan mengaramkan riba”.

Dalam ayat lain yang terkait jual beli, Allah berfirman pada QS. An-Nisa[4]: 29 yang artinya,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu

Nabi SAW pernah ditanya, “profesi apakah yang paling baik?” Maka beliau menjawab, bahwa profesi terbaik yang dikerjakan oleh manusia adalah segala pekerjaan yang dilakukan dengan kedua tangannya dan transaksi jual beli yang dilakukannya tanpa melanggar batasan-batasan syariat. (Hadits shahih dengan banyaknya riwayat, diriwayatkan Al Bazzzar 2/83, Hakim 2/10; dinukil dari Taudhihul Ahkam 4/218-219).

Dalam sirah nabawiyah juga telah banyak menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang. Bahkan pedagang yang ulung. Dalam sejarah disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW selama berdagang tidak pernah rugi ataupun balik modal. Semua yang dijual pada akhirnya akan membawa keuntungan. Terlebih sejak umur yang masih muda yaitu sekitar 8 tahun sudah membantu pamannya, Abu Thalib untuk berdagang dan mengembala kambing. Menariknya permintaan tersebut bukan datang dari Abu Thalib tapi langsung terucap oleh lisan Nabi Muhammad SAW.

Rukun Jual Beli dalam Islam

Jual beli akan menjadi sah dan valid apabila ditunaikan rukun-rukunnya. Apabila ada satu rukun yang tidak ditunaikan maka jual beli dianggap tidak sah. Terkait dengan rukun-rukun tersebut paling tidak ada dua pendapat ulama.

Menurut Ulama Hanafiyah, rukun jual beli cukup satu saja yaitu ijab Kabul (shighat). Adapun Jumhur Ulama menyatakan bahwa rukun jual beli paling tidak terdiri dari 4 hal, diantaranya:

  1. Aqidain (2 orang yang berakad baik pembeli maupun penjual),
  2. Objek Jual Beli,
  3. Ijab Kabul (shighat),
  4. Nilai tukar pengganti barang.
Baca Juga: Apakah P2P Lending Halal?

Syarat Jual Beli dalam Islam

Syarat jual beli dalam Islam mengikut pada rukun yang disertakan dalam jual beli. Rukun-rukun yang disebut sebelumnya akan sempurna bila diiringi dengan syarat-syarat berikut.

Terkait dengan aqidain (2 orang yang berakad) maka yang perlu diperhatikan diantaranya berakal dan dua orang yang berbeda. Jual beli yang dilakukan oleh orang yang tidak waras maka jual beli itu tidak sah.

Untuk objek jual beli terdapat 4 hal yang perlu diperhatikan diantaranya,

  1. Keberadaan barang tersebut harus tampak,
  2. Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat,
  3. Dimiliki sendiri oleh penjual, tidak diperkenankan menjual barang yang bukan dimiliki oleh penjual.
  4. Diserahkan langsung ketika akad.

Perlu diperhatikan juga bahwa syarat yang dijelaskan tersebut adalah syarat jual beli pada umumnya. Adapun jual beli saat ini yang berlangsung pada dunia online akan ada bahasannya pada sub bab berikutnya.

Dari segi shighat yang perlu diperhatikan adalah adanya kerelaan kedua belah pihak. Hal ini karena terdapat kaidah muamalah yaitu an taradin minkum (suka sama suka/saling memiliki kerelaan).

Terakhir, terkait dengan nilai uang/nilai tukar barang yang dijual maka ada lima hal yang harus diperhatikan, diantaranya:

  1. Suci (Tidak boleh barang najis),
  2. Dapat diserahterimakan/dipindahkan,
  3. Ada manfaatnya,
  4. Dimiliki sendiri atau yang mewakilinya,
  5. Diketahui oleh penjual dan pembeli.
Jual Beli dalam Islam

Jual Beli yang Terlarang

Jual beli yang terlarang umumnya disebabkan oleh dua faktor yaitu karena tidak memenuhi rukun dan syarat jual beli dan karena ada faktor lain yang merugikan.

Jual beli yang tidak memenuhi rukun dan syarat diantaranya jual beli barang yang zatnya haram seperti babi dan khamr, jual beli yang belum jelas barangnya seperti menjual buah yang belum tampak atau anak sapi yang masih dikandungan ibunya, dan jual beli bersyarat.

Jual beli yang disebabkan oleh faktor yang merugikan diantaranya jual beli orang yang masih melakukan transaksi tawar menawar, jual beli dengan menghadang dagangan di luar kota/pasar (talaqqi rukban), dan membeli barang dengan memborong untuk kemudian ditimbun lalu dijual kembali ketika harganya naik (ikhtikar).

Baca Juga: Pinjaman Syariah tanpa Riba?

Jenis-Jenis Jual Beli dalam Islam

Jual beli dalam Islam memiliki beberapa jenis yang terbagi dalam 3 kategori yaitu berdasarkan perbandingan harga jual dan beli, berdasarkan obyek yang diperjualbelikan dan berdasarkan waktu penyerahan barang/dana.

Terkait dengan perbandingan harga jual dan beli, jual beli ini terbagi pada 3 jenis, yaitu murabahah (jual beli dengan untung), tauliyah (jual beli dengan harga modal), dan Muwadha’ah (jual beli dengan harga rugi)

Berdasarkan obyek yang diperjualbelikan, jenis jual beli terbagi menjadi 3 jenis, yaitu muqayadah (barter), Mutlaq, Sharf (mata uang).

Terakhir berdasarkan waktu penyerahan barang/dana, jual beli terbagi menjadi 4 jenis, yaitu Ba’I bi thaman ajil (cicil), Salam (pesan), istishna (pesan), istijrar.

Jual Beli dalam Islam

Jual Beli Online

Di era digital saat ini, aktivitas jual beli sudah tidak lagi terselenggara sebagaimana lazimnya dimana fisik seorang penjual bertemu dengan fisik seorang pembeli. Hadirnya internet mempermudah segala bentuk transaksi termasuk transaksi jual beli yang kemudian dikenal dengan sebutan jual beli online.

Siapa yang tidak mengenal marketplace atau e-commerce seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Lazada dan Matahari Mall. Mungkin kamu adalah salah satu yang pernah menggunakannya. Namun, yang jadi pertanyaan mendasar adalah apakah jual beli online diperbolehkan dalam Islam? Karena dalam jual beli online tidak ada tatap muka antar penjual dan pembeli. Barang yang diperjual belikan juga masih dalam bentuk gambar dan tak terlihat secara langsung.

Dr. Oni Sahroni dalam bukunya Fikih Muamalah Kontemporer: Membahas Ekonomi Kekinian menyebutkan bahwa jual beli online diperbolehkan selama ketentuan terkait barang tersebut halal dan jelas spesfikasinya dipenuhi. Selain itu, penjual harus memberikan hak khiyar (opsi melanjutkan/membatalkan) kepada pembeli jika barang diterima tidak sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh penjual.

Kebolehan atas hukum jual beli online didsarkan pada standar syaraiah internasional AAOIFI, dan fatwa DSN MUOI terkait dengan jual beli ijarah serta kaidah-kaidah fikih muamalah terkait.

Islam memberikan kemudahan pada setiap hal yang dilakukan oleh umatnya terutama dalam hal muamalah. Kekhawatiran akan ketidakjelasan barang yang akan dibeli pada jual beli online harus diatasi dengan memperjelas gambar produk yang ditampilkan dan penjelasan spesfikasi yang sedetail mungkin oleh penjual. Bila ada kecacatan pada produk yang dijual maka penjual harus menyampaikan hal tersebut.

Baca Juga: 6 Jenis Investasi Syariah Online

Itulah gambaran terkait jual beli dalam Islam secara umum. Semoga bisa menambah khasanah keilmuanmu terkait dengan ekonomi islam.

Jika kamu tertarik dengan konten islami seperti ini, kamu bisa juga melihat tulisan lainnya di Topik Ekonomi Islam. Jika kamu lebih menyukai konten video kamu bisa mengunjungi Channel Youtube Qazwa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here