Jual Beli Zaman Now : Dropship dan Hukumnya dalam Islam

0
16839
Jual Beli Zaman Now : Dropship dan Hukumnya dalam Islam

Kemudahan bertransaksi di era digital membuat banyak orang menggunakan cara baru dalam berjual beli. Salah satu cara yang sekarang banyak digunakan adalah jual beli dengan sistem dropship.

Dropship adalah sistem jual beli dengan melibatkan 3 pihak. Yaitu pembeli, penjual dan supplier (penyedia barang). Penjual dalam konteks ini disebut sebagai dropshipper. Ia berperan sebagai pihak yang menjual barang si supplier.

Simple-nya, dropshipper menjual barang yang tidak ia miliki. Barang tersebut adalah milik si supplier. Ketika terjadi pembelian maka si dropshipper akan mengarahkan uang penjualan tersebut kepada si supplier. Lalu, supplier akan memproses pesanan dan mengirimkan barang tersebut langsung kepada si pembeli. Si dropshipper di awal sudah mendapatkan keuntungan karena ia telah menambahkan margin (tambahan keuntungan) ketika ia menjual barang si supplier kepada si pembeli.

Katakanlah harga barang si supplier adalah Rp10.000. Maka si dropshipper akan menjualkan barang tersebut lebih mahal. Kalau ia menjual Rp15.000 maka Rp5.000 menjadi keuntungan bagi si dropshipper

Mudah dan saling menguntungkan, bukan?

Si pembeli mendapatkan barang yang dibutuhkan, dropshipper mendapatkan keuntungan atas penjualannya, dan supplier dimudahkan terjual barangnya.

Sayangnya sistem dropship menuai kontroversi dalam Islam karena barang tidak dimiliki langsung oleh si dropshipper. Dalam islam barang yang dijual harus dimiliki oleh penjual.

Dari Hakim bin Hizam, “Beliau berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, ada orang yang mendatangiku. Orang tersebut ingin mengadakan transaksi jual beli, denganku, barang yang belum aku miliki. Bolehkah aku membelikan barang tertentu yang dia inginkan di pasar setelah bertransaksi dengan orang tersebut?’ Kemudian, Nabi bersabda, ‘Janganlah kau menjual barang yang belum kau miliki.‘” (HR. Abu Daud, no. 3505; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Lalu apakah berakhir kesimpulan bahwa jual beli dropship itu haram?

Ustad Oni Sahroni menjelaskan dalam buku terbarunya yang berjudul Fikih Muamalah Kontemporer bahwa jual beli dropship diperbolehkan dalam islam. Namun, ada 3 catatan untuk sistem tersebut agar sesuai dengan ketentuan syariah

1. Produk yang diperjual belikan harus halal dan jelas spesifikasinya

Dropshipper harus memastikan bahwa barang yang ia jual dari supplier adalah barang yang halal dan jelas spesifikasinya. Jangan sampai ada ketidakjelasan baik dalam hal kondisi barang maupun harga barang tersebut. Karena Rasulullah SAW melarang jual beli yang mengandung gharar/ketidakjelasan (H.R. Muslim). Begitupula antara dropshipper dengan pembeli, si dropshipper harus bisa menjelaskan kondisi barang yang ia jual dengan sejelas-jelasnya.

2. Memenuhi unsur ijab qabul (shigat)

Unsur ini menunjukkan adanya keridhaan antara kedua belah pihak dalam transaksi jual beli. Berdasarkan mazhab Syafi’iyah, jual beli dropship bisa menyebabkan terjadinya perpindahan kepemilikan meskipun hanya dengan akad, sebagaimana pendapat ulama : “Pembeli memiliki barang dan penjual memiliki harga barang dengan sekedar akad jual beli yang sah dan tanpa menunggu adanya serah terima (taqabudh)”

3. Akad antara dropshipper dengan pembeli adalah jual beli tidak tunai dan antara dropshipper dengan supplier adalah akad ijarah

Disebut tidak tunai dikarenakan barang yang dibeli tidak langsung disediakan oleh si dropshipper. Si dropshipper perlu menyampaikan pembelian tersebut kepada si supplier. Adapun antara dropshipper dengan supplier adalah akad ijarah. Karena dropshipper mendapatkan ujrah(upah) atas usahanya dalam memasarkan produk si supplier.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa sistem jual beli dropship dalam islam adalah diperbolehkan dengan memenuhi 3 ketentuan tersebut.


Jika kamu tertarik dengan konten islami seperti ini, kamu bisa juga melihat tulisan lainnya di Topik Ekonomi Islam. Jika kamu lebih menyukai konten video kamu bisa mengunjungi Channel Youtube Qazwa.