Maulid Nabi : Bolehkah merayakan Maulid Nabi, Sejarah, dan Hikmah

0
2001
Maulid Nabi

12 rabiul awal adalah hari dimana seorang manusia mulia terlahir ke muka bumi. Ia yang telah membawakan risalah Islam dengan penuh perjuangan. Ialah nabi akhir zaman dan 12 rabiul awal adalah maulid nabi Muhammad SAW.

Bila mendengar kisah-kisah perjuangan Nabi Muhammad SAW, tentu kita tidak akan terbayang bahwa ada sosok manusia yang rela mengorbankan banyak hal demi menegakkan agama Allah.

Mungkin kalau kita yang berada di posisi beliau, tidak akan sanggup menghadapinya. Teringat kisah dimana beliau datang ke Thaif untuk berdakwah namun tidak disambut baik oleh warga sana.

Nabi Muhammad SAW dilempari batu, kotoran sehingga tubuhnya berlumuran darah dan kotoran. Tetapi beliau sabar dan mengatakan bahwa akan ada waktunya penduduk itu beriman kepada Allah. Bila tidak mereka maka anaknya, bila tidak maka cucunya. Dan seterusnya.

Menariknya, seorang penulis beraliran orientalis bernama Michael H. Hart menuliskan 100 orang berpengaruh dan tokoh pertama yang ditulis adalah Nabi Muhammad SAW.

Ditulisnya bahwa pengaruh Nabi Muhammad SAW mencakup banyak lini. Diantaranya ekonomi, militer, budaya dan sebagainya.

Kisah-kisah demikian, diceritakan kembali dan dikenang umumnya pada waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tepatnya pada tanggal 12 Rabiul awal dan pada tanggal tersebut telah ditetapkan hari libur nasional memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Namun, perihal Maulid Nabi Muhammad SAW terdapat perbedaan pendapat khususnya dalam hal perayaannya.

Lalu, apakah Maulid Nabi boleh dirayakan?

Baca Juga: Hukum Memasang Hiasan Dinding dalam Islam

Maulid Nabi
sumber: google.com

Maulid Nabi Boleh Dirayakan?

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa perihal acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ada perbedaan pendapat.

Ada pendapat ulama yang mengatakan bahwa hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah haram. Karena ia merupakan bid’ah dimana tidak dicontohkan oleh Nabi dan generasi sahabat.

Beberapa pendapat ulama yang mengharamkan diantaranya Tajuddin al-Fakihani. Beliau adalah ulama Malikiyah. ia berpendapat dengan mengatakan,

Saya tidak mengetahui adanya satupun dalil dari al-Quran dan sunah tentang maulid. Dan tidak ada nukilan dari seorangpun ulama umat ini, yang mereka adalah panutan dalam agama, berpegang dengan prinsip pendahulunya. Bahkan peringatan ini adalah perbuatan bid’ah yang dibuat ahli bathil.”

Kemudian ketarangan Ulama As-Syatibi yang mengatakan, “Semua paham bahwa mengadakan maulid seperti yang ada di masyarakat di masa ini adalah bid’ah, sesuatu yang baru dalam agama. Dan semua bid’ah adalah sesat”.

Namun, di samping itu ada ulama yang membolehkan. Dijelaskan oleh Ustadz Abdul Shomad Lc,MA, Ph.D (akrab dipanggil UAS) bahwa melaksanakan maulid Nabi diperbolehkan.

Menurut UAS, ia mengutip dari Imam Al Hafiz yang hafal 300.000 hadis yang pernah mengatakan pada tanggal 10 Muharam Allas SWT menyelamatkan Nabi Musa.

Pada saat ini, Bani Israil kemudian melaksanakan puasa karena Allah telah menyelamatkan Nabi Musa.

UAS melanjutkan bahwa bila Nabi Musa saja boleh diperingati apalagi Nabi Muhammad SAW.

Penjelasan lain juga menegaskan bahwa Nabi juga mensyukuri hari kelahirannya dengan berpuasa.

Diriwayatkan oleh Qatadah, bahwa Nabi Muhammad saw pernah ditanya oleh salah seorang sahabatnya kenapa dia berpuasa di hari Senin. Beliau menjawab, saya dilahirkan pada hari itu apakah salah jika saya mengagungkannya dengan cara berpuasa? (HR. Muslim dalam Shahihnya kitab al-Shiyam)

Jadi, terkait dengan hukum kembali pada pilihan masing-masing. Yang jelas ada pendapat yang membolehkan dan ada juga yang melarang.

Baca Juga: Aqiqah (Pengertian, Sejarah, Dalil dan Tata Cara)

Sejarah

Sejarah diadakannya Maulid Nabi dikabarkan ada beberapa versi. Ada yang mengatakan bahwa sejarah diadakannya perayaan ini sudah dimulai sejak tahun kedua hijriah.

Penjelasan ini dikutip dari buku Ahmad Tsauri yang berjudul Sejarah Maulid Nabi.

Dijelaskan bahwa seorang bernama Khaizuran (170 H/786 M) yang merupakan ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad di Masjid Nabawi.

Kemudian ada juga versi yang menjelaskan bahwa maulid nabi diadakan pada zaman Daulah Fatimiyah. Ada banyak Maulid yang mereka buat.

Mulai dari Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah, hingga maulid Hasan dan Husain.

Penjelasan ini dikutip dari ulama Al-Maqrizy dalam kitabnya Al-Khathat.

Baca Juga: Surat Al-Kahfi (Keutamaan dan Kandungannya)

Maulid Nabi
sumber: unsplash.com

Hikmah

Meskipun demikian tetap ada hikmah yang bisa diambil dari kelahiran Nabi Muhammad SAW terutama dari kisah-kisahnya.

Beberapa hikmah diantaranya adalah :

  1. Belajar menjadi manusia yang bersyukur. Karena Rasulullah SAW adalah manusia yang tidak pernah lepas dari rasa syukur. Bahkan saat shalat tahajud kakinya bengkak dan itu merupakan wujud rasa syukur beliau sebagai hamba.
  2. Belajar untuk mencintai Islam lebih dalam. Karena perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan Islam sangatlah luar biasa. Maka sebagai umatnya sudah sepatutnya untuk mencintai agamanya.
  3. Menjadikan teladan hingga akhir hayat. Karena Rasulullah SAW adalah uswatun hasanah. Ialah role model sempurna yang dapat diikuti dari segala lini kehidupan.

Kesimpulan

Pada intinya maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya membuat kita sebagai umat-Nya menjadi lebih mencintai Rasulullah SAW. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti segala sunnah-sunnah-nya.

Jika kamu tertarik dengan konten keislaman seperti ini, kamu bisa juga melihat tulisan lainnya di Topik Islam. Jika kamu lebih menyukai konten video kamu bisa mengunjungi Channel Youtube Qazwa.