Akad Mudharabah : Pengertian, Dalil, Contoh, Praktik Kontemporer

0
50765

Setidaknya ada 2 akad yang umum hadir dalam proses mencari keuntungan. Pada artikel sebelumnya, sudah dibahas mengenai akad murabahah. Kali ini, akan dibahas akad selanjutnya yaitu akad mudharabah.

Apa itu akad mudharabah?

Mudharabah berasal dari kata dharb, berarti memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usaha.

Dalam konteks praktisnya mudharabah adalah akad kerjasama bisnis anatara 2 pihak, yaitu pihak yang mengelola usaha/pemilik bisnis yang disebut sebagai mudharib dan pihak yang memiliki modal yang disebut sebagai shahibul maal. Dalam akad tersebut poin pentingnya adalah terletak di awal yaitu kesepakatan atas nisbah bagi hasil.

Video yang membahas akad mudharabah beserta contoh sederhananya

Ketika mudharib dan shahibul maal bertemu maka mereka akan melakukan akad mudharabah. shahibul maal akan memberikan investasi modalnya kepada bisnis si mudharib yang kemudian si mudharib akan memanfaatkan modal tersebut untuk mengelola bisnisnya.

Pada hari dimana mudharib telah balik modal dan memperoleh keuntungan maka ia akan mengembalikan pokok modal yang didapat dari si shahibul maal ditambah keuntungan yang dibagikan sesuai kesepkatan nisbah bagi hasil diawal akad.

Baca Juga : Mengenal Akad Murabahah dalam Ekonomi Islam
Fatwa Mudharabah

Konsep akad mudharabah termaktub dalam Fatwa DSN MUI No : 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan mudharabah (qiradh). Dalam konteks fatwa tersebut adalah mudharabah yang diterapkan oleh Lembaga Keuangan Syariah.

Landasan Al-Qur’an dan Hadist

Penentuan fatwa tersebut didasarkan pada beberapa dalil dari Al-Qur’an dan Hadist. Pada Q.S. Al-Maidah [5] : 1 yang artinya, “wahai orang-orang yang beriman! Tunaikanlah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak mengalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakinya”

ayat tersebut menegaskan terkait pentingnya akad/perjanjian khususnya bagi orang-orang yang memiliki iman didalam dirinya. Kemudian pada Q.S. Al-Baqarah 275 dan 278 menegaskan pada larangan terhadap riba.

Q.S. Al-Baqarah: 275, “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” kemudian pada Q.S. Al-Baqarah: 278, “Hai orangorang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang yang beriman”. Ayat tersebut menjelaskan solusi atas pengharam riba yaitu jual-beli.

Selain itu, Nabi SAW bersabda,”Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat yang mereka buat kecuali syarat yang mengharamkan halal atau mengalalkan yang haram” (HR. Muslim, Tirmizi, Nasa’i, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Ayat tersebut menjelaskan solusi atas pengharam riba yaitu jual-beli. Selain itu, Nabi SAW bersabda,”Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat yang mereka buat kecuali syarat yang mengharamkan halal atau mengalalkan yang haram” (HR. Muslim, Tirmizi, Nasa’i, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Kaidah Fiqh dan Ijma Ulama

Kemudian didasarkan pada kaidah fiqh yaitu bahwa semua bentuk muamalah pada dasarnya adalah boleh kecuali ada dalil yang mengharamkan. Dari dalil-dalil tersebut serta kaidah fiqh yang berlaku maka terbentuklah ijma yang mana Wahbah Zuhaili menjelaskan, “Mengenai Ijma, diriwayatkan bahwa sejumlah sahabat menyerahkan harta anak yatim sebagai mudharabah, dan tidak seorangpun mengingkarinya.

Oleh karena itu, hal tersebut adalah ijma“. Dengan demikian ulama berpendapat terkait dengan mudharabah yang mana diambil dari sirah nabawiyah karya Ibnu Hisyam yaitu Nabi SAW pergi berniaga sebagai mudharib ke Syam dengan harta Khadijah binti Khuwailid sebelum menjadi nabi; setelah menjadi nabi, beliau menceritakan itu perniagaan tersebut dengan tegas“.

Ini menunjukan bahwa praktek mudharabah sudah terjadi ketika Rasulullah SAW menjadi seorang pedagang. Praktek tersebut dilakukan oleh Rasulullah SAW yang saat itu berlaku sebagai mudharib dan Khadijah yang berlaku sebagai shahibul maal.

Rukun dan Syarat Mudharabah

Pada dasarnya adanya akad tidak terlepas dari rukun dan syarat yang berlaku. Hal ini diperlukan agar akad yang dikerjakan tidak fasid (rusak) dan keberkahan atas akad tersebut tidaklah hilang. Lalu, apa saja rukun dan syarat pada akad mudharabah?

Shahibul maal dan mudharib harus memahami hukum.

Itulah mengapa akad ini hanya dapat dikerjakan bagi mereka yang sudah baligh dan punya pengetahuan terkait hukum. Karena apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak cakap terhadap hukum maka dikhawatirkan akad yang dilakukan tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Sighat (ijab kabul)

Sighat (ijab kabul) juga perlu dilakukan agar terdapat kejelasan akad yang dikerjakan. Adapun perihal sighat ini ada hal yang harus diperhatikan diantaranya:

  1. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan akad.
  2. Penawaran dan penerimaan dilakukan pada saat akad.
  3. Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern.
Modal

Terkait dengan modal, ia haruslah sejumlah uang atau asset yang diberikan oleh shahibul maal kepada mudharib untuk tujuan usaha dengan syarat :

  1. Harus diketahui jumlah dan jenisnya.
  2. Dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai. Jika dalam bentuk asset, harus dinilai pada waktu akad.
  3. Tidak berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada mudharib, baik secara bertahap maupun tidak, sesuai dengan kesepakatan akad.
Keuntungan Mudharabah

Keuntungan mudharabah adalah jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari modal, dengan syarat yang harus dipenuhi :

  1. Harus diperuntukan bagi kedua pihak dan tidak boleh diisyaratkan untuk satu pihak.
  2. Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi (nisbah) dari keuntungan sesuai kesepakatan. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan.
  3. Shahibul Maal menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah, dan pengelola tidak boleh menanggung kerugian apapun kecuali diakibatkan dari kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan.
Kegiatan Usaha oleh Mudharib

Kegiatan usaha oleh mudharib, sebagai perimbangan modal yang disediakan oleh shahibul maal pada dasarnya harus memperhatikan:

  1. mudharib memiliki hak ekslusif untuk menjalankan usahanya tanpa campur tangan shahibul maal, tetapi ia mempunyai hak untuk melakukan pengawasan.
  2. Shahibul Maal tidak boleh mempersempit tindakan pengelola sedemikian rupa yang dapat menghalangi tercapainya tujuan mudharabah, yaitu keuntungan.
  3. Mudharib tidak boleh menyalahi hukum syariah Islam dalam tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah, dan harus mematuhi kebiasaan yang berlaku dalam aktifitas itu
Jenis-Jenis Akad Mudharabah

Akad Mudharabah memiliki karakteristik yang berbeda tergantung dari jenisnya. umumnya terdapat dua jenis akad mudharabah diantaranya:

Mudharabah Mutlaqah

Akad Mudharabah ini memiliki karakteristik yaitu pemilik dana/modal (shahibul maal) memiliki kewenangan untuk melakukan apa saja atau mengintervensi bisnis yang berjalan agar berhasil dan sesuai dengan tujuan bisnis yang telah disepakati antar kedua belah pihak.

Jadi misalkan kamu punya bisnis peternakan ikan, terus kamu melakukan akad mudharabah dengan salah satu investor. Nah, investor tersebut berhak untuk mengintervensi bisnis kamu sehingga ia dapat merubah sistem dalam bisnis kamu semisal cara penjualan, rekrutmen sdm, pengelolaan keuangan dan sebagainya.

Tapi kamu tetap punya hak untuk mengelola bisnismu kok. Meskipun begitu apa yang akan kamu lakukan perlu untuk didiskusikan dengan investormu.

Mudharabah Muqayyadah

Lain halnya dengan mudharabah mutlaqah yang mana shahibul maal memiliki hak untuk intervensi bisnis, pada mudharabah muqayyadah, si shahibul maal tidak memiliki hak untuk mengatur bisnis si pengusaha.

Jadi ketika ada kesepakatan akad mudharabah  antara shahibul maal dengan mudharib (pengusaha) maka kewenangan untuk mengatur usaha 100% adalah hak dari pengusaha. Pemilik modal tidak memiliki hak untuk mengatur usaha yang ia berikan modal.

Skema Mudharabah pada Transaksi Perbankan

Berikut adalah gambar terkait dengan skema mudharabah pada praktiknya di perbankan:

akad mudhrabah
Skema akad mudhrabah dalam perbankan

Dilihat pada gambar di atas, skema mudharabah dijelaskan dengan rincian sebagai berikut:

  1. Nasabah mengajukan pembiyaan kepada bank untuk memperoleh modal usaha.
  2. Bank memberikan modal sebesar 100% untuk di kelola oleh nasabah yang memiliki keahlian tertentu.
  3. Ketika akad berlangsung telah ditentukan proporsi bagi hasilnya.
  4. Jika terjadi kerugian ketika menjalankan usaha yang bukan merupakan kelalaian nasabah maka kerugian di tanggung oleh bank.
  5. Setelah proses usaha berjalan lalu keuntungan dibagi sesuai ketentuan nisbah. Selain itu nasabah juga mengembalikan modal pokok kepada bank.
Ilustrasi Skema Mudharabah pada Perbankan

Misal, Adzkia adalah seorang muslimah yang taat dan paham agama ia hendak menabungkan uangnya di salah satu Bank Syariah yaitu Bank A. Karena ingin merasakan hasil investasi maka Adzkia membuka tabungan dengan akad mudharabah.

Adzkia menabungkan uangnya ke Bank A sebesar 10 juta dengan nisbah bagi hasil 20% untuk Adzkia dan 80% untuk bank. Di sisi lain, Santos merupakan pengusaha ternak sapi. Untuk mengembangkan bisnisnya, ia butuh modal tambahan. Ia datang kepada salah satu Bank Syariah (sebut saja Bank A) untuk mendapatkan tambahan modal.

Ketika Santos menjelaskan terkait kebutuhannya akan permodalan untuk usahanya kepada Bank A maka Bank A akan melakukan screening untuk memastikan bahwa Santos adalah mudharib yang cocok untuk diberikan pembiayaan mudharabah.

Pada awal akad, mereka akan menentukan nisbah bagi hasil dari keuntungan si Santos. Misal, nisbah bagi hasil yang disepakati adalah 60% untuk Santos dan 40% untuk Bank A. Maka, ketika Santos mulai menuai keuntungan dari bisnisnya, misal keuntungannya adalah 10 juta. Maka, 6 juta (60% x 10 juta) untuk si Santos dan 4 juta (40% x 10 juta) untuk Bank A.

Dampak terhadap Tabungan Mudharabah Adzkia

Hasil 6 juta yang diterima oleh Bank A juga akan berdampak pada bertambahnya pendapatan dari tabungan mudharabah si Adzkia. Pada umumnya perhitungan untuk pembagian hasil kepada nasabah juga mencakup saldo rata-rata per bulan di seluruh Bank A. Katakanlah rata-rata saldo di Bank A untuk tabungan mudharabah adalah 1 miliar.

Rumus yang digunakan adalah (saldo yang dimiliki Adzkia x Keuntungan Bank A x 20%)/Saldo rata-rata tabungan mudharabah di Bank A. Bila dimasukan maka perhitungannya menjadi (10.000.000 x 4.000.000×20%)/1.000.000.000 = 8.000. Sehingga pendapatan yang diterima oleh Adzkia yang akan langsung bertambah ke saldo tabungan mudharabahnya adalah sebesar Rp8.000.

Skema Mudharabah Sederhana
Skema Akad Mudharabah dalam Bentuk Sederhana

Dilihat pada skema akad mudharabah dalam bentuk sederhana tersebut maka rincian atas sistem tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Shahibul Maal (pemilik dana) menyerahkan uang yang ia miliki sebagai modal dan mudharib (pengusaha) menerima uang tersebut sehingga terbentuk akad mudharabah
  2. Dari dana yang sudah diterima oleh mudharib, maka dijalankan dalam bentuk proyek usaha.
  3. Ketika usaha tersebut berjalan, maka keuntungan dari usaha tersebut harus dibagikan kepada kedua belah pihak yaitu shahibul maal dan mudharib. Apabila proyek tersebut menghasilkan keuntungan maka keuntungan tersebut harus dibagikan berdasakan nisbah yang telah disepakati. Namun, bila mengalami kerugian maka kerugian tersebut ditanggung penuh oleh shahibul maal.
  4. Pembagian keuntungan/kerugian kepada kedua belah pihak.
Ilustrasi Skema Mudharabah Sederhana

Terdengar ribet? Tidak semua skema mudharabah seribet itu kok. Ada skema mudharabah yang sangat sederhana yaitu mudharabah yang cukup mempertemukan 2 pihak langsung yaitu shahibul maal dan mudharib.

Kembali pada kisah Santos dan Adzkia. Santos yang memiliki usaha namun terkendala untuk mendapatkan modal bertemu dengan Adzkia yang memiliki modal untuk usaha Santos. Merekapun melakukan akad mudharabah.

Adzkia menyetorkan uangnya sebanyak 10 juta kepada Santos sebagai modal. Mereka menyepakati nisbah bagi hasil yaitu 60% untuk Santos dan 40% untuk Adzkia. Porsi besar untuk Santos dikarenakan pada idealnya skema mudharabah memberikan porsi yang besar pada pengusaha (mudharib).

Seiring berjalannya waktu, dalam rentang waktu setahun usaha Santos sudah balik modal mendapatkan keuntungan sebesar 1 juta rupiah. Sehingga pada saat itu Santos harus mengembalikan modal yang ia gunakan kepada Adzkia ditambah pembagian dari hasil usahanya yaitu 400 ribu untuk Adzkia (40% x 1 juta) dan 600 ribu untuk Santos (60% x 1 juta)

Bagaimana kalau rugi?

Lalu, bagaimana kalau usaha si Santos rugi? Dalam sistem perbankan, Adzkia tidak akan mengalami dampak terhadap kerugian yang dialami oleh Santos. Karena pada dasarnya Bank tidak akan memberikan loss terhadap nasabah.

Lain cerita bila menggunakan konsep mudharabah yang sederhana maka, Adzkia sebagai investor akan menanggung kerugian 100% atas modal yang diberikan. Misal, si Santos setelah mengelola usahanya mengalami kerugian 2 juta rupiah.

Maka, Adzkia harus berlapang dada untuk mendapatkan kembali modalnya tidak utuh. Misal si Adzkia memberikan modal sebesar 10 juta di awal. Maka, ia akan menerima uangnya kembali sebanyak 8 juta.

Keadilan dalam Akad Mudharabah

Berarti Santos enak dong? Adzkia doang kan yang rugi. Islam itu terkenal dengan konsep keadilannya. Bahkan dalam akad ini, tetap terjadi keadilan. Karena pada dasarnya kedua-duanya menanggung kerugian.

Adzkia menanggung kerugian finansial sedangkan Santos menanggung kerugian non finansial. Kerugian non finansial mencakup tenaga, pikiran dan waktu. Santos mungkin secara finansial tidak rugi, tapi ia rugi secara non finansial dikarenakan ia sudah mengeluarkan tenaga, pikiran dan waktunya untuk mengelola bisnisnya.

Selama si Santos mengelola bisnisnya dengan sungguh-sungguh tanpa menciptakan kelalaian ataupun berbuat curang, maka si Santos tidak memiliki hak untuk mengembalikan utuh modal si Adzkia. Lain halnya, kalau Santos menyengaja memanipulasi bisnisnya atau berbuat curang. Maka, Santos wajib mengembalikan modal si Adzkia.

Mudharabah dalam Kondisi Kontemporer

Perkembangan transaksi mudharabah hingga saat ini memunculkan modifikasi atas akad mudharabah pada lembaga keuangan syariah (LKS). Akad tersebut dinamakan akad mudharabah musytarakah. Berbeda dengan dua akad sebelumnya, mudharabah musytarakah adalah penggabungan antara akad mudharabah dengan akad musyarakah.

Secara sederhana, pada akad ini si pengusaha (mudharib) mengikutsertakan modalnya ke dalam bisnis yang sedang ia jalankan. Hal ini berbeda dengan dua akad mudharabah sebelumnya yang mana pengusaha tidak sama sekali menyertakan modalnya. Bila dilihat dari definisinya maka akad mudharabah musytarakah terlihat sama dengan akad musyarakah. Namun, yang membedakan antara kedua akad tersebut adalah adanya dua tahap pembagian keuntungan. Berikut pembagiannya:

  1. Tahap pertama adalah pembagian keuntungan dari akad musyarakah LKS. Pada tahap ini LKS mendapatkan keuntungan sebagai pemodal (musytarik). Rasio porsi modal menjadi penentu jumlah keuntungan yang akan didapatkan oleh LKS.
  2. Tahap kedua adalah pembagian keuntungan dari akad mudharabah. Pada tahap ini keuntungan yang telah dikurangi dari hasil akad musyarakah kemudian dibagikan kembali dengan pembagian LKS sebagai pengelola (mudharib) dan nasabah sebagai pemilik modal (shahibul maal).
Cara Investasi dengan Akad Mudharabah

Jikalau kamu ingin memulai untuk berinvestasi dengan menggunakan skema mudharabah. Kamu dapat memilih jalur investasi antara lain:

  1. Perbankan Syariah, pada umumnya bank syariah memiliki 2 bentuk akad sebagai produk mereka yang ditawarkan kepada nasabah yaitu mudharabah dan wadiah. Kamu bisa memilih mudharabah agar kamu bisa merasakan hasil investasi dari uang yang kamu tabungkan pada bank syariah tersebut.
  2. Lembaga Keuangan Syariah non Bank, dalam hal ini kamu bisa memilih untuk investasi di asuransi syariah, BPRS, BMT dan sebagainya yang umumnya juga menggunakan akad mudharabah.
  3. Financial Technology, ada beberapa fintech yang menawarkan produk investasi dengan akad mudharabah. Salah satu fintech tersebut adalah Qazwa. Fintech ini menghubungkan antara pemilik modal (investor) dengan UMKM yang memerlukan pendanaan. Produk investasi mudharabah yang ditawarkan memberikan bagi hasil yang cukup menguntungkan.

Untuk kamu yang tertarik dengan topik tentang ekonomi islam atau fikih, kamu bisa cek artikel lainnya di rubrik Ekonomi Islam.

Kunjungi juga channel Youtube Qazwa
untuk pembahasan terkait ekonomi islam, bisnis dan keuangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here