Perbedaan Sistem Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional
Perbedaan Sistem Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional

Perbedaan Sistem Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional

Jika ditilik dari prinsip dasar dan pengertiannya, sudah pasti terdapat perbedaan mendasar antara sistem ekonomi islam dan konvensional. Namun sayangnya, seringkali definisi ekonomi Islam kini mengalami penyempitan makna yang mana pembahasannya hanya berputar pada istilah bunga, riba, bagi hasil ataupun akad-akad semacam mudharabah dan murabahah.

Padahal ketika kita berbicara mengenai ekonomi maka pembahasannya mencakup sistem ekonomi secara keseluruhan entah itu mengenai mekanisme pasar, konsep penawaran dan permintaan maupun masalah-masalah ekonomi secara global. Demikian pula dengan ekonomi Islam, ekonomi Islam tidak hanya berbicara mengenai bunga, riba ataupun istilah-istilah populer lainnya. 

Adam Smith melalui bukunya yang berjudul The Wealth of Nation mengajukan sistem ekonomi klasik/konvensional yang membatasi peran politis serta memberi ruang lebih kepada individu. Menurutnya, setiap individu mempunyai kuasa penuh terhadap hartanya dan bebas menggunakan sumber-sumber ekonomi menurut cara-cara yang dikehendakinya.

Secara prinsip, tidak ada yang salah dengan definisi yang diungkapkan oleh Adam Smith diatas. Sistem Ekonomi Islam juga mengakui kebebasan individu dalam memperoleh dan mengalokasikan hartanya. Namun yang menjadi pembeda adalah bahwa dalam sistem Ekonomi Islam bagaimana cara perolehan dan pengalokasian harta tersebut juga dibahas dan diatur untuk mencapai tujuan ekonomi yang dikehendaki.

Berbicara lebih lanjut mengenai sistem ekonomi Islam dan ekonomi konvensional, berikut beberapa perbedaan yang paling mendasar diantara keduanya:

Jika kamu tipe audio visual, kamu juga bisa menyimak video youtube yang membahasnya.
Perbedaan Prinsip

Ekonomi konvensional menganut konsep scarcity yang menyatakan bahwa sumber daya yang tersedia berjumlah terbatas sehingga tujuan dari disiplin ilmu ini sendiri adalah mempelajari perilaku manusia dalam menghadapi kelangkaan.

Oleh karena itu, ekonomi hanya mempelajari bagaimana cara mengalokasikan sumber daya yang terbatas secara optimum dan memberikan kebebasan bagi individu untuk menentukan tujuan (ends) dari digunakannya sumber daya yang terbatas tersebut. 

Sedangkan ekonomi Islam merupakan goal oriented diciplin yang berarti ekonomi Islam tidak hanya mempelajari bagaimana cara (means) pengalokasian sumber daya yang terbatas secara efisien tetapi juga mempelajari tujuan (ends) dari penggunaan sumber daya tersebut.

Baca Juga : Beda bank syariah dan konvensional apa saja sih ?
Perbedaan Mekanisme Pasar

Ekonomi konvensional menganut paham mekanisme pasar bebas yang mana setiap individu diperbolehkan keluar masuk dalam pasar tanpa adanya larangan atau intervensi.

Menurut Adam Smith, pasar memiliki potensi untuk menciptakan keseimbangannya sendiri. Keseimbangan ini yang kemudian ia sebut sebagai “invisible hands” yang mana jika mekanisme pasar dibiarkan bebas tanpa aturan (tanpa adanya pembatasan produksi atau konsumsi) maka permintaan konsumen akan suatu barang/jasa menjadi seimbang dengan penawaran dari sisi produsen sehingga akan menciptakan kesejahteraan di masyarakat.

Mekanisme ini pada akhirnya juga akan memaksimalkan perolehan keuntungan, meningkatkan inovasi, menciptakan pembagian pekerjaan serta mendorong keseimbangan harga. 

Sementara ekonomi Islam tidak meyakini adanya “invisible hand” yang membuat pasar menjadi efisien. Keterlibatan pemerintah dalam sistem ekonomi Islam sangat dipertimbangkan untuk mendukung proses produksi dan distribusi barang/jasa.

Sistem ekonomi Islam melihat pemerintah sebagai salah satu unit ekonomi yang saling berdampingan dengan unit ekonomi yang lain secara tetap dan stabil.

Bahkan dalam sejarah perekonomian Islam, peran pemerintah dalam mengawasi pasar dilakukan oleh institusi bernama Al-Hisbah yang memiliki fungsi untuk mengawasi kecukupan barang dan jasa di pasar, mengawasi perindustrian, jasa, dan perdagangan serta mengawasi keseluruhan pasar.

Perbedaan Distribusi Kekayaan

Rasionalisme dalam sistem ekonomi konvensional berorientasi untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Keuntungan ini bisa diperoleh dari sebarapa banyak modal yang disiapkan/dikeluarkan oleh masing-masing unit ekonomi.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa distribusi kekayaan tergantung pada besarnya modal yang dimiliki. Dalam sistem kapitalisme, distribusi kekayaan tidak akan pernah merata karena modal merupakan suatu barang privat yang tidak bisa diregulasi.  

Sementara dalam ekonomi Islam, salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah keadilan. Hal ini berdampak bahwa setiap hasil dari pembangunan harus dapat didistribusikan kepada msyarakat secara adil dan merata. Keadilan dalam distribusi kekayaan dan harta ini diwujudkan melalui mekanisme zakat, infaq, sedekah dan waqf.

Sebagai contoh, prinsip dari mekanisme zakat ini membantu proses distribusi harta dengan mengambil dari masyarakat yang kaya untuk kemudian diberikan kepada masyarakat yang miskin atau kekurangan sehingga harta tidak hanya beredar dikalangan orang-orang kaya saja.

Baca Juga : 6 Jenis Investasi Syariah Online Anti Ribet

Perbedaan Perolehan Keuntungan

Dalam ekonomi konvensional, tidak ada aturan yang mengekang mengenai bagaimana seorang individu dapat memperoleh keuntungan. Hal ini berimpilkasi bahwa setiap modal yang dimiliki oleh unit ekonomi baik dalam bentuk uang ataupun yang lainnya dapat digunakan untuk memaksimalkan keuntungannya.

Sistem ekonomi konvensional juga mengenal prinsip time value of money yang berarti bahwa nilai uang saat ini lebih tinggi dibandingkan dengan nilai uang di masa yang akan datang. Dengan prinsip ini, ada “harga” yang harus dibayarkan oleh pelaku ekonomi ketika meminjam/menggunakan modal dari pelaku ekonomi lainnya yang dikenal dengan istilah bunga. 

Sementara dalam sistem ekonomi Islam, perolehan keuntungan hanya bisa diakui dari transaksi-transaksi yang bersifat bisnis dan bukan dari transaksi yang bersifat tolong menolong. Dalam transaksi bisnis, pembagian keuntungan dilakukan dengan sistem bagi hasil yang besarannya ditentukan dalam jumlah prosentase.

Dengan prosentase ini, keuntungan akan dibagi sesuai dengan proporsi masing-masing, pun jika ternyata mengalami kerugian akan ditanggung secara bersama-sama sesuai dengan akad/perjanjiannya.  

Baca Juga : Mengenal Akad Mudharabah dalam Islam

Sistem ekonomi Islam dan ekonomi konvensional memiliki beberapa perbedaan yang cukup mendasar. Semoga pengetahuan di atas bisa menambah wawasan Anda mengenai perbedaan antara sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi konvensional.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendorong perkembangan sistem ekonomi Islam di Indonesia adalah dengan menggunakan instrumen keuangan yang berasakan prinsip islam salah satunya melalui skema pembiayaan di Qazwa. Qazwa memiliki misi untuk membangun ekosistem pembiayaan syariah yang bebas riba baik untuk pemberi dana ataupun para pengusaha kamu bisa mempelajari lebih lanjut di Website Qazwa

Di blog qazwa kami membahsa tentang ekonomi islam, keuangan personal dan juga bisnis. Kamu bisa menemukan topik pembahasan ekonomi islam lainnya di kategori ekonomi islam.

Selain berupa blog, qazwa juga membahas topik tentang ekonomi islam, keuangan personal dan bisnis di Youtube Channel Qazwa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here