Primbon : Asal-Usul Primbon dan Hukumnya Dalam Islam

0
2528
Primbon

Masa depan adalah hal yang ghaib. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi, dalam beberapa kasus masih ada beberapa orang/kelompok yang merumuskan sesuatu yang kemudian menjadi dalil orang setelahnya untuk menentukan masa depan.

Kamu pasti tidak asing dengan feng-shui. Dalam feng-shui ada rumusan perhitungan agar setiap hal yang dilakukan manusia memiliki unsur harmoni.

Biasanya (meskipun tidak selalui) feng-shui digunakan dalam menentukan letak sebuah rumah beserta perabotannya. Misal bagian kamar tidak boleh menghadap barat, atau bagian ruang tamu tidak boleh menghadap timur dan sebagainya.

Dipercaya bahwa apabila hal tersebut tidak diikuti maka kesialan akan menimpa si pemilik rumah. Wah, serem ya?

Di Indonesia juga ada hal yang serupa. Terdapat sebuah kitab yang berisi rumusan perhitungan yang menjadi dalil atas sebuah perbuatan.

Bagi siapapun yang tidak mengikuti dalil tersebut maka kecelakaan baginya. Kitab tersebut bernama primbon.

Meskipun pada dasarnya ia dirumuskan tidak dalam maknaan yang negatif. Karena primbon adalah induk dari kumpulan-kumpulan catatan pemikiran orang Jawa Kuno. 

Mau tahu bagaimana asal-usul primbon? yuk kita bahas.

Baca Juga: Kilas Balik dan Perkembangan Kitab Kuning

Primbon
sumber: unsplash.com

Asal-Usul Primbon

Orang-orang terdahulu mencatat setiap kejadian di daun tal (siwalan).

Kejadian-kejadian tersebut meliputi fenomena yang baru saja terjadi alias tidak pernah mereka rasakan sebelumnya dan pemanfaatan alam sekitar.

Mereka mencoba mendalami, memahami, mencermati (kalau dalam Islam dikenal dengan sebutan, “bertafakur“) atas setiap kejadian serta gejala alam yang mereka rasakan.

Hal ini dimaksudkan agar mereka mendapatkan hasil yang lebih baik dan terhindar dari kegagalan maupun musibah.

Mengingat belum adanya pensil dan kertas untuk menyimpan ingatan mereka maka metode yang digunakan adalah menggunakan daun tal.

Dari setiap catatan yang ada mengenai fenomena-fenomena yang terjadi konon telah teruji kebenarannya. Hal tersebut yang kemudian menjadi rumusan untuk membentuk beberapa sistem.

Sistem-sistem yang terbentuk diantaranya, sistem penanggalan, sistem musim dan sisi rasi bintang.

Sebagian lagi dibuatkan menjadi catatan tanda-tanda alam seperti letak tahi lalat, kedutan, mimpi, pengetahuan obat-obatan, ilmu kesaktian, dongan (do’a), cerita karangan kuno dan masih banyak lagi.

Semua itu kemudian dibukukan untuk kemudian diwariskan kepada generasi penerus. Buku tersebut kemudian dikenal dengan nama primbon.

Asal kata primbon adalah Jawa Bon (mbon atau mpon) yang artinya adalah induk. Kemudian ditambahkan di awalnya dengan kata  pri atau peri yang berfungsi meluaskan kata dasar.

Baca Juga: Barakallah fii umriik

Primbon
sumber : google.com

Hukum Primbon dalam Islam

Sebelumnya perlu kamu ketahui bahwa di dalam primbon terdapat keterangan tentang nasib. Dimana hal tersebut terletak pada sistem penanggalan. Biasanya tanggal tertentu akan disangkutpautkan pada keadaan tertentu.

Misal, kalau mau membuka warung harus menunggu hari yang bagus (Kamis legi dll), Jika mau menikahkan Anaknya menunggu atau ditepatkan dengan hari kelahirannya (padahal hari kelahirannya masih lama); Apabila mau bangun rumah menanti hari yang Bagus (Rabu legi dll).

Melihat keadaan demikian, bagaimana hukumnya dalam Islam?

Perlu untuk kamu pahami bahwa di dalam Islam tidak ada hari keberuntungan ataupun kesialan. Setiap hari adalah baik dan harus diawali dengan perbuatan baik.

Untuk memulai sesuatu yang baik, katakanlah membuka warung, membangun rumah dan sebagainya maka pesan nabi awalilah dengan membaca basmallah.

Sebagaimana hadist Nabi SAW,

Setiap perbuatan baik yang tidak diawali dengan bismillah adalah terputus” (HR. Ibn Hibban)

Terkait dengan apa yang akan terjadi apakah keberuntungan ataupun kerugian maka tidak ada yang bisa mengetahuinya kecuali Allah SWT. Karena hanya Dia-lah yang mengetahui sesuatu yang ghaib.

Sebagaimana firman Allah SWT,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak engetahui bila mereka akan dibangkitkan”

(an-Naml/27 : 65)

Baca Juga: La Tahzan

Kesimpulan

Dengan demikian, sebagai umat Islam sudah semestinya kita cukup dengan menyerahkan segala takdir kepada Allah SWT. Manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa dengan maksimal. Dan hati-hati terjebak dalam dosa syirik.

Jika kamu tertarik dengan konten keislaman seperti ini, kamu bisa juga melihat tulisan lainnya di Topik Islam. Jika kamu lebih menyukai konten video kamu bisa mengunjungi Channel Youtube Qazwa.