Tak dimungkiri bahwa di masa-masa ini menaruh kepercayaan pada orang lain menjadi tindakan yang cukup sulit dilakukan, lebih-lebih kepada orang yang belum kita kenal dengan baik. Alih-alih kepercayaan yang kita beri dijaga, apabila tak berhati-hati justru kebohongan dan kerugian yang bakal kita peroleh. Saya kira, kepercayaan menjadi barang yang mahal dan sulit didapat karena pondasi yang mendukung eksistensinya seperti kejujuran dan integritas sudah mulai luntur di masyarakat. 

Semakin sering perilaku ketidakjujuran nampak di tengah masyarakat, keyakinan untuk tidak mudah percaya kepada orang lain semakin tumbuh. Sebagai contoh sederhana, setiap dari kita pasti pernah mengalami momen dimana kita mempertanyakan apakah seseorang itu jujur atau berbohong ketika yang bersangkutan meminta bantuan pada kita. Informasi yang kurang memadai, stigma di masyarakat yang telanjur negatif terhadap orang asing pada akhirnya menghambat kita untuk berbuat baik. 

Membicarakan persoalan rasa percaya, kejujuran serta integritas, saya jadi teringat kisah Khalifah Umar, Salman dan Seorang Pembunuh. Kisah ini jadi inspirasi besar bagi saya untuk mencoba mempertemukan masyarakat dalam suatu wadah guna menumbuhkan rasa saling percaya untuk tumbuh bersama dan menjadikan hidup ini lebih berarti. Mari saya ceritakan terlebih dahulu kisah yang sangat menginspirasi tersebut. 

Suatu hari ketika Khalifah Umar bin Khattab sedang duduk di sekitar masjid Nabawi bersama para sahabat untuk mendiskusikan berbagai hal, ia didatangi oleh dua orang pemuda yang membawa seorang pemuda lusuh. Kedua pemuda tersebut meminta Khalifah Umar untuk melakukan qisas terhadap pemuda lusuh itu karena telah membunuh ayah mereka. 

Pemuda lusuh itu pun membenarkan bahwa ia telah membunuh ayah kedua pemuda itu. Atas perbuatan yang sudah dilakukannya, ia menyatakan siap dihukum qisas, akan tetapi ia meminta waktu selama tiga hari untuk kembali ke desanya terlebih dulu guna menyelesaikan amanah yang sudah diberikan oleh warga desa kepadanya. Setelah amanah selesai dilakukan ia berjanji akan kembali dan siap di qisas.

Namun, kedua pemuda dan hadirin yang ada meragukan bahwa setelah tiga hari pemuda tersebut akan kembali untuk memenuhi hukumannya. Maka, di tengah perdebatan tersebut hadirlah Salman Al Farisi yang kemudian menyatakan siap untuk menjamin pemuda itu. 

Khalifah Umar pun marah kepada Salman karena ia berani menjamin tanpa mengenal sama sekali pemuda lusuh itu. Sekiranya pemuda lusuh itu berbohong dan melarikan diri, maka nyawa Salman yang akan menjadi taruhannya. 

Akhir dari kisah ini cukup mengharukan. Setelah tiga hari, pemuda lusuh itu datang memenuhi janjinya. Ia telah selesai memenuhi amanah kaumnya dan sudah siap untuk di qisas. Khalifah Umar begitu terpukau dengan pemuda tersebut. Beliau kemudian bertanya kepadanya, “Wahai pemuda, mengapa engkau tetap kembali untuk memenuhi hukuman qisas-mu, padahal engkau bisa saja kabur? ”

Pemuda lusuh itu pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan bahwa di kalangan muslimin sudah tidak ada lagi pemuda yang menepati janji.”

Khalifah Umar berkaca-kaca mendengar jawaban pemuda lusuh itu. Ia kemudian bertanya kepada Salman, “Lalu engkau, Salman. Mengapa engkau mau menjamin orang baru saja engkau kenal, padahal apabila ia berbohong, kamu sendiri bisa celaka?”

Salman menjawab, “Agar nanti jangan sampai ada yang mengatakan, di kalangan muslimin sudah tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya.” 

Kedua pemuda yang ayahnya terbunuh pun kemudian menimpali, “Wahai Amirul Mukminin. Mohon batalkanlah tuntutan kami. Kami telah memaafkan pemuda ini.”

“Mengapa kalian memaafkannya?”, tanya Khalifah Umar. “Agar jangan sampai ada yang mengatakan bahwa di kalangan muslimin sudah tidak ada yang saling memaafkan dan saling menyayangi”, jawab kedua pemuda tersebut.

Khalifah Umar benar-benar terharu dengan kemuliaan hati pemuda lusuh, Salman, dan kedua pemuda yang ayahnya terbunuh itu.  

Kisah di atas mengajarkan kepada kita semua tentang kepercayaan, keikhlasan, dan tanggung jawab yang mesti dibangun dalam persaudaraan antara sesama umat Islam. Nilai-nilai ini juga yang kemudian menjadi pondasi berdirinya Qazwa – platform pembiayaan syariah berbasis daring yang mempertemukan antara pemberi dana, pelaku usaha mikro, dan pemasok untuk saling bersinergi memakmurkan perekonomian umat Islam. 

Alhamdulillah hanya dalam waktu sekitar dua bulan sejak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per tanggal 6 Agustus 2019, sudah lebih dari 100 proyek pembiayaan dari para pelaku usaha mikro di Indonesia yang berhasil dibiayai oleh Qazwa. Kami baru memulai dan  insyaallah akan terus bertambah lagi investor, pemasok, dan pelaku usaha mikro yang tumbuh #JadiManfaat bersama Qazwa. 

Terima kasih kepada yang sudah percaya. Mohon doanya agar Qazwa dapat terus amanah dan profesional untuk mempertemukan mereka yang saling percaya, mereka yang yakin, dan mau tumbuh bersama untuk mewujudkan hidup yang lebih berarti. 

Dikry Paren – Founder dan CEO Qazwa 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here