Yang Lebih Baik dari Harta Dunia

0
68

Dunia yang semakin modern, menuntut manusia untuk bergerak serba cepat dari seluruh bidang kehidupan. Mereka mulai mengembangkan berbagai kemudahan terkait teknologi maupun kegiatan ekonominya. Dengan perkembangan tersebut, tanpa disadari kegiatan ekonomi saat ini mengarah kepada neoliberalisme yang berarti kepentingan dan utilitas pribadi.

Motif ekonomi yang berbentuk demikian tentu berkonsekuensi pada tamaknya mereka pada harta dunia, entah dari mana harta tersebut didapat atau dengan cara apa harta itu dimiliki. Padahal, manusia, terkhusus seorang muslim, mengimani bahwa kehidupan itu hanya sementara dan rezeki yang diperoleh saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan bukan memupuk kekayaan.

Dalam banyak ayat, Allah tabaraka wa ta’ala mencoba memberitakan terkait permainan dunia ini kepada hamba-Nya. Salah satu ayat yang menjelaskan kehidupan dunia ini menipu ada pada surat Al-Kahfi ayat 46.

﴿المالُ وَالبَنونَ زينَةُ الحَياةِ الدُّنيا وَالباقِياتُ الصّالِحاتُ خَيرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوابًا وَخَيرٌ أَمَلًا﴾

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. 18:46)

Begitulah Allah Azza wa Jalla memfirmankan bagaimana dunia, terutama harta dan anak-anak, menjadi fitnah yang besar bagi manusia. Sudah menjadi ketentuan yang haq bahwa setiap orang akan diuji bagaimana hartanya digunakan, baik dalam perkara yang menyelamatkan akhirat atau menjerumuskannya ke dalam kerak neraka. Sudah cukup dengan ayat ini seorang Muslim sejati mencoba memperhatikan apa yang dia kerjakan.

Saat ini kita sering disibukkan dengan perkara dunia, baik itu dari diri sendiri, keluarga, lingkungan atau bahkan perkara kenegaraan. Banyak di antara kita yang apabila menonton acara televisi, suatu waktu melihat pemberitaan terkait korupsi atau investasi bodong. Berita-berita tersebut riil terjadi di masyarakat yang dengan serakah menginginkan harta dunia dan bisa jadi melalaikan akhiratnya.

Dalam sebuah hadits yang panjang riwayat Imam Bukhari, pernah suatu ketika para sahabat Nabi Shallahu alaihi wa salam sedang salat bersama beliau. Ketika itu datang serombongan pedagang dari neger Syam (saat ini Lebanon, Palestina, Jordania) membawa barang dagangan berisi makanan yang melimpah.

Seketika itu pula, kaum muslimin yang sedang salat teralihkan oleh riuh ramai rombongan pedagang tersebut. Mereka saling melirik ke arah dagangan dan mencari kira-kira barang apa yang mereka ingin belikan. Kemudian, mereka pun pergi menuju rombongan tersebut dan tersisalah para sahabat Nabi Shallahu alaihi wa salam yang berjumlah hanya dua belas orang.

Kemudian, tak lama setelah kejadian tersebut terjadi, Allah menurunkan wahyu-Nya kepada sang Khalil Shallahu alaihi wa salam berupa ayat pada Surat Al-Jumu’ah ayat 11

﴿وَإِذا رَأَوا تِجارَةً أَو لَهوًا انفَضّوا إِلَيها وَتَرَكوكَ قائِمًا قُل ما عِندَ اللَّهِ خَيرٌ مِنَ اللَّهوِ وَمِنَ التِّجارَةِ وَاللَّهُ خَيرُ الرّازِقينَ﴾

“Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan,” dan Allah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. 62:11)

Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam menafsirkan ‘di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan,” dan Allah pemberi rezeki yang terbaik’ artinya adalah setiap orang yang beriman kepada-Nya dan ketetapan Allah apabila mereka meninggalkan perbuatan demikian.

Ayat tersebut menceritakan bagaimana kerakusan manusia pada harta, meskipun saat itu dalam keadaan mereka tengah salat jum’at bersama Nabinya. Allah kemudian menegur barangsiapa yang mencari harta dan lengah terhadap ibadah kepada Allah maka ketahuilah setiap balasan dan rezeki tersebut sudah Allah atur sedemikian rupa.

Tidak ada yang bisa menunda, menahan, atau mengambil harta tersebut kecuali dengan seizin Allah dan beribadah kepada-Nya adalah sebuah kewajiban.

Lalu, bagaimana keadaan kita saat ini yang terlena akan kehidupan, fokus pada pekerjaan, mencoba untuk mengumpulkan pundi-pundi harta supaya bisa bersenang-senang atau terlihat kaya, padahal Allah tidak memerintahkan demikian? Maka hanya kepada Allah lah setiap Muslim melihat apa yang dia kerjakan agar tidak menjadi beban tanggungan di hari Berkumpul kelak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here