Zakat Fitrah : Pengertian, Makna, Dalil, Rukun, dan Objeknya

0
52899
zakat fitrah

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh limpahan pahala. Kesempatan untuk mendapatkan berkali lipat pahala ini digunakan dengan melakukan banyak amal shalih. Diantaranya adalah baca qur’an, shalat sunnah dan berinfaq.

Meskipun ada banyak peluang untuk  mengerjakan amal shalih, tetaplah yang wajib untuk dikerjakan di bulan tersebut jangan sampai lalai untuk dikerjakan. Apa saja yang wajib tersebut? Dua amalan yang pada bulan tersebut menjadi wajib untuk dikerjakan adalah puasa dan zakat fitrah.

Meskipun ada banyak peluang untuk  mengerjakan amal shalih, tetaplah yang wajib untuk dikerjakan di bulan tersebut jangan sampai lalai untuk dikerjakan. Apa saja yang wajib tersebut? Dua amalan yang pada bulan tersebut menjadi wajib untuk dikerjakan adalah puasa dan zakat fitrah.

Pada artikel kali ini, kita tidak akan membahas tentang kewajiban berpuasa melainkan yang akan kita bahas adalah mengenai zakat fitrah. Kamu mungkin sudah tahu dan juga sudah pernah melakukannya, tapi bisa jadi masih banyak yang perlu kamu ketahui tentang zakat fitrah.

Pengertian Zakat Fitrah

Bila ditelisik dari segi bahasa, zakat berasal dari kata az-zakaah yang artinya suci, tumbuh, berkah dan terpuji. Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy dalam bukunya Pedoman Zakat menjelaskan bahwa zakat memiliki beberapa pengertian diantaranya, nama’(kesuburan), thaharah(kesucian), barakah (keberkahan), dan tazkiyahtathhir (mensucikan).

Makna Thaharah

Thahara atau at-thahuru bermakna membersihkan atau mensucikan. Landasan dari makna ini terdapat pada QS. At-Taubah[9] ayat 103 yang artinya, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnnya do’a kamu itu ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lahi Maha Mengetahui”.

Makna thaharah juga menandakan bahwa orang-orang yang berzakat dengan ikhlas lillahi ta’ala maka Allah akan mensucikan dirinya baik terhadap harta maupun jiwanya sehingga ia bisa menjadi insan yang senantiasa terus merasa damai dalam hidupnya.

Makna Al-Barakatu

Secara sederhana makna al-barakatu adalah berkah. Keberkahan tersebut hadir dikarenakan harta yang telah dizakatkan telah menjadi bersih dan suci dari kotoran. Sehingga orang yang berzakat pada akhirnya akan dilimpahi keberkahan oleh Allah SWT.

Makna Nama’

Makna Nama’ atau Numuw adalah bertumbuh. Artinya bahwa seseorang yang berzakat nyatanya hartanya akan terus bertambah dan bertumbuh. Mungkin terdengar tidak logis, karena kalau menggunakan hitung-hitungan matematika dunia maka seharusnya harta yang dizakatkan menjadi berkurang. Pada kenyataannya kalau menggunakan matematika Allah maka harta zakat sebenarnya menjadi bertambah dan terus bertambah. Hal tersebut dikarenakan ada faktor kesucian dan keberkahan atas harta yang telah dizakatkan.

Menurut istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu.

Imam Taqi al-Din dalam bukunya Kifayah al-akhyar juga memberikan definisi tentang zakat yaitu  nama dari sejumlah harta tertentu yang diberikan kepada golongan orang tertentu dan dengan syarat tertentu.

Lalu, apa pengertian dari zakat fitrah?

Fitrah diambil dari kata fitri yang artinya berbuka puasa.

Apabila dua kata ini yaitu zakat dan fitrah digabungkan maka maknanya mengandung unsur sebab akibat. Bila diuraikan, artinya zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan karena muslim telah selesai menunaikan puasanya di bulan ramadhan.

Adapun pengertian lain yang umum diketahui, yaitu zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh muslim setahun sekali pada saat menuju hari raya idul fitri.

Baca Juga: Jual Beli dalam Islam serta Contohnya

Dalil Zakat Fitrah

Landasan atas diterapkannya zakat tercantum dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Terdapat pada QS. Al-Baqarah[2] ayat 110 yang artinya,
Dan dirikanlah sholat, dan tunaikanlah zakat, dan kebaikan apapun yang kalian kerjakan bagi diri kalian, tentu kalian akan mendapat pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kalian kerjakan

Kemudian pada QS. At-Taubah[9] ayat 103 yang artinya,

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Selain mengambil dari Al-Qur’an, dalil tentang zakat juga termaktub dalam hadist Nabi SAW, “Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta  mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah Subhanahu wata’ala.” (HR. Bukhari no. 25; Muslim no. 22)

Zakat Fitrah

Ketentuan Orang yang Wajib Berzakat Fitrah (Muzakki)

Dari beberapa keterangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa hukum zakat fitrah adalah wajib. Tapi siapa saja yang memang wajib untuk berzakat fitrah?

Orang-orang yang wajib berzakat disebut sebagai muzakki. Ada beberapa ketentuan seseorang yang wajib untuk berzakat. Apa saja?

  1. Beragama Islam, karena zakat fitrah diwajibkan bagi mereka yang muslim. Sebagaimana dalam hadist Nabi SAW, “Abu Bakar Ash-Shiddiq RA berkata, inilah sedekah (zakat) yang diwajibkan oleh Rasulullah kepada kaum Muslim” (HR. Bukhari). Adapun orang yang beragama Islam setelah matahari terbenam di akhir Ramadhan tidak diwajibkan untuk berzakat fitrah.
  2. Merdeka, sehingga golongan yang termasuk hamba sahaya tidak wajib membayar zakat.
  3. Lahir sebelum idul fitri, sehingga bila seorang anak lahir pas bulan ramadhan dan sebelum hari raya idul fitri maka ia dikenakan wajib zakat.
  4. Mempunyai harta yang lebih dari pada kebutuhannya sehari-hari untuk dirinya dan orang-orang di bawah tanggungan pada hari raya dan malamnya.
Baca Juga: Apa itu P2P Syariah?
Zakat Fitrah

Ketentuan Orang yang Berhak Menerima Zakat Fitrah (Mustahik)

Nah setelah membahas siapa saja yang wajib berzakat fitrah, subbab ini akan lebih membahas tentang siapa saja yang berhak untuk mendapatkan zakat fitrah. Orang-orang atau pihak yang berhak untuk mendapatkan zakat fitrah disebut mustahik.

Dalam hal ini, Allah sudah menegaskan kriterianya sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 60 yang artinya,

Sesungguhnya, zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah

Dari keterangan ayat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa mustahik/penerima zakat yang sah dikategorikan ke dalam 8 golongan.

  1. Fakir; ialah mereka yang tidak memiliki apapun baik harta maupun kemampuan fisik sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok dalam hidupnya.
  2. Miskin; ialah mereka yang memiliki harta namun harta tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
  3. Amil; ialah pihak yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat fitrah.
  4. Mualaf; ialah mereka yang telah berikrar dalam dua kalimat syahadat (masuk Islam) dan memerlukan bantuan sebagai upaya menguatkan keimanan dan syariat.
  5. Gharimin; ialah mereka yang memiliki hutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang yang berhutang bukan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya melainkan hanya untuk memenuhi keinginannya maka tidak tergolong sebagai gharimin.
  6. Ibnu Sabil; ialah mereka yang sedang melakukan perjalanan namun kehabisan perbekalan. Adapun perjalanan tersebut adalah perjalanan yang diniatkan dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT.
  7. Fii Sabilillah; ialah mereka yang memperjuangkan dakwah Islam dengan berbagai macam cara. Termasuk didalamnya para ustadz dan pejuang yang lainnya.
  8. Hamba Sahaya; ialah mereka yang belum merdeka namun ingin memerdekakan dirinya.
Baca Juga: Manfaat Fintech Syariah untuk Umat
Zakat Fitrah

Ketentuan Objek Zakat Fitrah

Sudah termasuk orang yang wajib berzakat? Artinya sudah waktunya kamu untuk mengeluarkan zakat fitrah. Mudah kok, kamu tinggal datang saja ke masjid terdekat dan salurkan zakat fitrahnya baik berupa uang maupun beras. Loh kok bisa beras dan uang? Yang benar yang mana? Mana yang lebih afdhal?

Dalam hal objek untuk zakat fitrah memang ada dua pandangan. Tiga ulama mazhab yaitu Maliki, Syafi’I dan Hambali menyatakan bahwa zakat fitrah harus diserahkan dalam bentuk makanan pokok. Hal ini merujuk pada hadist Nabi SAW, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” (Shahih Bukhari, No.1503 dan Shahih Muslim, No.984).

Lain halnya dengan Mazhab Hanafi yang memperbolehkan perubahan zakat fitrah dalam bentuk uang. Pendapat tersebut karena Hanafi tidak melihat hadist hanya sebatas tekstual. Hadist tersebut dilihat secara kontekstual dan harus dikondisikan sesuai maqashid syariah. Esensi zakat fitrah adalah tercukupinya kebutuhan seluruh umat Islam khususnya pada hari raya idul fitri.

Ulama kontemporer, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi juga memperbolehkan zakat fitrah dengan menggunakan uang. Hal ini didasarkan karena melihat sejarah bahwa pada zaman Nabi makanan banyak terdapat di lingkungan sekitar sehingga mudah mendapatkannya sedangkan perak dan emas masih menjadi barang yang sangat berharga sehingga hanya sedikit orang yang memilikinya.

Dengan demikian, baik menggunakan komoditas berupa beras ataupun uang kedua-duanya tetap sah.

Beras tersebut harus diukur dengan beras yang biasa dikonsumsi sehari-hari dengan ukuran 3,5 liter atau 2,5 kg. Apabila ingin dikonversikan dalam bentuk uang, maka uang tersebut harus senilai dengan 3,5 liter atau 2,5 kg beras yang biasa dibeli untuk satu jiwa.

Baca Juga: 7 Cara Dapatkan Pembiayaan Syariah

Zakat Lewat Amil atau Langsung?

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa amil adalah pihak yang menerima dan menyalurkan zakat. Setiap seorang muslim hendak menunaikan zakat ia harus menemui amil untuk menyalurkan zakatnya yang kemudian akan disalurkan kembali oleh amil kepada mustahik yang memang berhak untuk mendapatkannya.

Jikalau zakat yang diberikan ke amil  akan diberikan kepada mustahik, bolehkah zakat diserahkan langsung kepada mustahik tanpa melalui amil?

Bila merujuk pada QS. At-Taubah ayat 60 tadi terdapat kalimat “Ambillah Zakat”. Ini menegaskan bahwa perlu adanya peran suatu pihak yang bertugas untuk mengambil zakat. Dalam sejarah juga dijelaskan bahwa pelaksanaan zakat pada masa Rasulullah SAW selalu melalui perantaraan amil.

Pemberian zakat melalui amil dilakukan agar zakat yang diberikan dapat disalurkan secara profesional dan tepat sasaran. Dikhawatirkan apabila zakat secara langsung maka penyerahan zakat belum tentu tepat sasaran.

Pemberian zakat secara langsung diperbolehkan apabila di lingkungan tersebut tidak ada amil ataupun amilnya tidak memadai. Meskipun begitu, berzakat sudah dimudahkan dengan hadirnya teknologi. Saat ini seseorang tidak perlu repot-repot datang ke masjid untuk menyerahkan dana zakat kepada amil masjid. Cukup melalui layar gawainya, seorang muslim sudah bisa langsung berzakat.

Itulah pembahasan mengenai zakat fitrah. Semoga pembahasan kali ini bisa menambah khasanah keilmuan terkait ekonomi islam.

Jika kamu tertarik dengan konten islami seperti ini, kamu bisa juga melihat tulisan lainnya di Topik Ekonomi Islam. Jika kamu lebih menyukai konten video kamu bisa mengunjungi Channel Youtube Qazwa.